Antitesis Jerman dan Pola Berulang dalam Kegagalan

Timnas Jerman kembali harus angkat koper dari Piala Dunia 2026. Die Mannschaft tersingkir di babak 32 besar setelah kalah adu penalti dari Paraguay.
Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk Jerman di pentas global sejak menjadi juara pada 2014. Dua kali gagal di fase grup dan sekali di awal fase gugur menjadi bukti.
>>> Bank Jakarta Dukung STBM, Hibahkan MCK Komunal di Jakbar
Dalam laga melawan Paraguay, Jerman sebenarnya mendominasi penguasaan bola dan jumlah tembakan. Namun, hanya 30 persen dari 21 tendangan yang mengarah ke gawang.
Paraguay tampil solid dengan pertahanan rapat. Kiper Orlando Gill mencatat lima penyelamatan penting dan dua tepisan dalam adu penalti, layak menjadi pemain terbaik.
Jerman justru kebobolan lebih dulu dari permainan terbuka. Ini menjadi tanda masalah besar di lini pertahanan.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Jerman selalu kebobolan dalam setiap pertandingan. Lawan debutan Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador pun mampu membobol gawang mereka.
Padahal, delapan pemain bertahan dalam skuad Jerman semuanya berpengalaman. Pelatih Julian Nagelsmann jarang mengubah formasi 4-2-3-1, namun saat berkreasi justru menyulitkan tim sendiri.
Nagelsmann sempat memasang Deniz Undav sebagai gelandang serang menggantikan Jamal Musiala. Siasat ini tidak membuahkan gol dan lawan mampu membaca strategi tersebut.
>>> Himbara Sambut Baik Penempatan Dana SAL Rp381 Triliun Akhir Tahun
Jerman dikenal sebagai laboratorium sepak bola dengan banyak pelatih berkualitas. Di Piala Dunia 2026, ada tiga pelatih asal Jerman: Nagelsmann, Thomas Tuchel (Inggris), dan Ralf Rangnick (Austria).
Ketiganya memiliki karakter berbeda. Nagelsmann dengan pendekatan asimetris, Rangnick dengan serangan balik agresif, dan Tuchel dengan fleksibilitas formasi.
Namun, kesuksesan di level klub tidak berbanding lurus dengan tim nasional. Setelah Joachim Low pergi, tiga pelatih silih berganti namun belum ada tambahan trofi.
Nagelsmann masih terikat kontrak hingga Euro 2028. Masih ada waktu dua tahun untuk melakukan perbaikan, termasuk melalui UEFA Nations League.
Evaluasi kepelatihan jelas diperlukan. Finis di perempat final Euro 2024 dan babak 32 besar Piala Dunia belum cukup sebagai modal perbaikan.
>>> Pencairan JHT Tuai Sorotan, DJP Ungkap 1,6 Juta Klaim Bebas Pajak
Jika tetap percaya pada Nagelsmann, Jerman butuh waktu lebih lama. Namun, jika mengganti pelatih, proses harus dimulai dari awal.
Update Terbaru
Valve Rilis Pembaruan SteamOS untuk Optimalkan VRAM Steam Machine
Selasa / 30-06-2026, 19:15 WIB
Rockstar Ikut Sebut GTA 6 'Plays Best on PS5', Xbox Tak Disebut dalam Iklan
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
Bananya Rayakan 10 Tahun dengan Anime Baru Bananya At Home Party, Tayang 10 Juli
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
KPK Tangkap 10 Orang dalam OTT di Kuansing Riau
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
Bom Paket Gegerkan Monako, Pelaku Diduga Kabur ke Prancis
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
Prancis vs Swedia: Dominasi Les Bleus atau Kejutan Blågult?
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
5 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Picu Kanker Mulut, Bukan Cuma Merokok
Selasa / 30-06-2026, 19:14 WIB
Kapolda Jabar Rudi Setiawan Resmi Naik Pangkat Jadi Komjen
Selasa / 30-06-2026, 19:09 WIB
Hakim: Kerugian Negara Kasus Chromebook yang Jerat Nadiem Rp1,5 T
Selasa / 30-06-2026, 19:09 WIB
Resmi Perpanjang Kontrak, Eksel Runtukahu Target Juara Bersama Persija
Selasa / 30-06-2026, 19:07 WIB
Maroko Singkirkan Belanda Lewat Adu Penalti Dramatis di Piala Dunia 2026
Selasa / 30-06-2026, 19:07 WIB
Hakim: Nadiem Lampaui Kewenangan Tempatkan Jurist Tan di Kementerian
Selasa / 30-06-2026, 19:07 WIB
Amran Pastikan Pasokan B50 Aman, Berlaku Mulai 1 Juli 2026
Selasa / 30-06-2026, 19:07 WIB






