Mobil bertransmisi manual semakin jarang ditemui di perkotaan, namun sebuah studi dari Jepang justru mengungkap manfaatnya bagi kesehatan otak.

Penelitian yang dipimpin Profesor Ryuta Kawashima dari Tohoku University menemukan bahwa mengemudi mobil manual mampu merangsang kerja prefrontal cortex atau bagian otak depan secara signifikan.

>>> Rocky Gerung Puji PDIP Konsisten Rawat Marhaenisme, Singgung Fungsi Kampus

Area otak tersebut berperan penting dalam fungsi memori, perhatian, dan pengambilan keputusan.

Saat mengemudi manual, pengemudi harus melakukan banyak aktivitas bersamaan: memperhatikan lalu lintas, menginjak kopling, memindahkan tuas transmisi, dan mengatur pedal gas agar perpindahan gigi mulus.

Aktivitas kompleks ini membuat otak terus bekerja mengoordinasikan gerakan dan mengambil keputusan secara simultan.

Stimulasi aktif tersebut dinilai membantu menjaga fungsi kognitif, terutama bagi pengemudi usia lanjut.

Sebaliknya, mobil matik tidak memerlukan koordinasi serumit manual karena perpindahan gigi dilakukan otomatis oleh sistem, sehingga beban kerja otak lebih rendah.

>>> Pemilik Bar di Rusia Dihukum 7 Tahun Penjara karena LGBT

Meski demikian, mobil matik tidak memberikan dampak buruk; temuan ini hanya menunjukkan bahwa mobil manual memberikan stimulasi lebih besar pada area otak tertentu.

Sayangnya, eksistensi mobil manual semakin terhimpit di pasar global, termasuk Jepang.

Laporan terbaru menyebutkan kendaraan manual hanya menyumbang satu hingga dua persen dari total penjualan mobil baru di negara tersebut.

Model populer seperti Toyota Corolla dan Honda Civic kini lebih banyak ditawarkan dengan transmisi matik, seiring adopsi sistem hybrid yang lebih kompatibel dengan transmisi otomatis.

>>> Mu'min Ali Gunawan Mundur dari Presiden Komisaris Panin Sekuritas

Transmisi manual kini lebih banyak bertahan pada kategori kei car dan kendaraan niaga ringan.