Sebuah studi dari Jepang mengungkap bahwa mengemudi mobil bertransmisi manual lebih baik untuk kesehatan otak dibandingkan mobil matik.

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Ryuta Kawashima dari Tohoku University, yang juga dikenal sebagai pencipta seri game Nintendo Brain Age.

in1

>>> JLR Bisa Saingi Ford Bronco dengan Defender Berbasis Stellantis yang Lebih Sederhana

Menurut laporan Best Car Web, studi tersebut menemukan bahwa rangkaian fisik saat mengemudi manual—membaca kecepatan, menginjak kopling, memilih gigi, dan mengatur gas—secara bersamaan mengaktifkan korteks prefrontal.

Korteks prefrontal adalah area otak yang bertanggung jawab atas memori, perhatian, dan pengambilan keputusan.

Di negara dengan populasi menua seperti Jepang, stimulasi harian ini berfungsi sebagai latihan ringan yang membantu menjaga fungsi kognitif.

Sebaliknya, berkendara pasif dengan mobil matik atau semi-otonom tidak memberikan manfaat serupa.

Penjualan Mobil Manual di Jepang Terus Menyusut

Meski memiliki manfaat, mobil manual semakin langka di Jepang.

>>> Daihatsu Hijet DeckVan 1998: Van Sekaligus Pikap Kecil dengan Harga $12.950

Best Car melaporkan bahwa transmisi manual hanya menyumbang 1 hingga 2 persen dari penjualan mobil baru di negara tersebut.

Sisa-sisa mobil manual bertahan di segmen terbawah, seperti kei van dan truk murah—Honda N-Van, Daihatsu Hijet, Suzuki Carry dan Every—yang masih menggunakan mesin 660cc tiga silinder dengan transmisi manual.

Sementara itu, model mainstream seperti Toyota Corolla dan Honda Civic hanya tersedia dengan CVT karena powertrain hybrid.

Bahkan Honda Prelude terbaru hadir tanpa transmisi manual, hanya dengan simulasi perpindahan gigi palsu.

Mobil kei menjadi garis pertahanan terakhir bagi transmisi manual di Jepang.

>>> Lada Iskra SW Dilengkapi Manual 6 Percepatan, Harga Mulai Rp 315 Juta

Jika pabrikan terus memproduksinya dengan tiga pedal, Jepang akan mempertahankan sesuatu yang telah lama dihilangkan oleh industri otomotif global.