Fenomena waktu terasa semakin cepat seiring bertambahnya usia telah lama menjadi teka-teki. Kini, para ilmuwan mulai mengungkap mekanisme di balik persepsi subjektif ini.

Meskipun jam dan kalender berdetak dengan kecepatan tetap, pengalaman pribadi kita terhadap detik, hari, dan tahun bisa sangat berbeda tergantung usia.

in1

>>> Momen Langka: Pesawat XB-1 Pecahkan Sound Barrier Tertangkap Kamera NASA

Penelitian modern menunjukkan bahwa perubahan pada otak, rutinitas harian, dan cara memori terbentuk turut berperan.

Otak yang Semakin Lambat Seiring Usia

Adrian Bejan, profesor di Duke University, Amerika Serikat, menawarkan penjelasan menarik: seiring bertambahnya usia, sistem saraf kita mulai melambat.

Sinyal listrik yang melesat di antara neuron kehilangan kecepatannya sedikit demi sedikit setiap dekade.

Perubahan struktural ini secara langsung memengaruhi cara kita merasakan waktu.

Pada masa remaja, otak bekerja seperti mesin pemroses yang cepat dan kuat, menyerap banyak gambar dan rangsangan baru setiap hari.

Akibatnya, hidup terasa penuh peristiwa dan setiap hari terasa berbeda.

Seiring usia, jaringan saraf menjadi semakin kompleks, yang justru memperlambat pemrosesan informasi. Korteks serebral—bagian otak yang 'cerdas'—kini membutuhkan waktu ekstra untuk menguraikan setiap rangsangan.

Hal ini menciptakan kesenjangan antara realitas objektif dan pengalaman subjektif.

Hasilnya: hari-hari kita terasa berlalu begitu cepat, kontras dengan kenangan masa kecil yang panjang dan santai.

Kebaruan dan Rutinitas Mempersempit Waktu

Pada tahun 1960-an, psikolog Robert Ornstein menunjukkan melalui eksperimennya bahwa kepadatan informasi yang diproses memengaruhi jam internal kita.

Saat otak menemukan data baru atau kompleks, waktu terasa melambat.

Christian Yates, peneliti di University of Bath, Inggris, menyoroti 'kejenuhan kebaruan' ini: ketika otak muda dibanjiri pemandangan, suara, dan kejutan baru, sumber daya kognitif bekerja penuh.