Kenaikan biaya hidup dan harga properti di Australia memaksa semakin banyak pasangan yang sudah memutuskan berpisah untuk tetap tinggal serumah.

Fenomena ini dikenal sebagai 'separasi dalam satu atap' atau separation under the same roof (SUSR).

in1

>>> Polisi Tangkap Pria Usai Mobil Tabrak Pejalan Kaki di London

Data pengadilan federal Australia menunjukkan proporsi pasangan bercerai yang melaporkan tetap serumah setelah pisah meningkat dari 15% pada 2020–2021 menjadi 19% pada 2024–2025.

Tekanan Ekonomi Menjadi Faktor Utama

Elisabeth Shaw, psikolog klinis dan CEO Relationships Australia New South Wales, mengatakan biaya hidup menjadi alasan utama pasangan menunda pisah secara fisik.

"Ada dua bagian – satu adalah keterjangkauan, yang lain adalah kurangnya stok perumahan," ujarnya.

Kedua faktor itu menciptakan pusaran penderitaan bagi pasangan yang sedang bermasalah. Hampir sepertiga warga Australia melaporkan bahwa biaya hidup memberi tekanan pada hubungan mereka, menurut riset Relationships Australia.

Peneliti dari University of Sydney, Profesor Stephen Whelan dan Dr Luke Hartigan, menemukan bahwa kenaikan harga rumah dapat mengunci orang dalam pernikahan.

"Ketika harga rumah lebih tinggi, lebih mahal untuk menjalankan dua rumah tangga, sehingga Anda lebih mungkin tinggal dalam satu rumah tangga," jelas Hartigan.

Konflik Sehari-hari dan Bahaya Tersembunyi

Tara Houseman, spesialis hukum keluarga di Relationships Australia NSW, melihat pasangan membagi rumah menjadi zona dan bernegosiasi akses ke area tertentu.

Masalah sepele seperti siapa yang mengosongkan mesin cuci piring bisa menjadi pemicu konflik.

Situasi bisa semakin rumit ketika salah satu pasangan mulai berkencan lagi.

"Jika satu orang berkata, 'Kami sudah pisah, jadi saya akan online dan berkencan, dan jika saya keluar semalaman Anda harus toleran', itu bisa menyakitkan," kata Shaw.