Banyak orang merasa lebih produktif saat melakukan beberapa hal sekaligus, seperti membalas pesan sambil rapat atau mendengarkan podcast sambil bekerja.

Namun, para ilmuwan saraf mengingatkan bahwa kebiasaan ini memiliki harga tersendiri bagi otak.

in1

>>> Millie Bobby Brown Telepon Para Pemain 'Stranger Things' Pastikan Tak Ada Masalah

Otak manusia memang bisa mengejar lebih dari satu tujuan dalam waktu bersamaan, tetapi tidak semua informasi diproses dengan efisiensi yang sama.

Setiap kali perhatian terpecah atau harus berpindah-pindah, performa biasanya menurun.

Dua Wajah Multitasking

Multitasking sebenarnya terbagi menjadi dua jenis: melakukan dua hal secara paralel (dual-tasking) dan berpindah cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain (task-switching).

Contoh dual-tasking adalah berjalan sambil mengunyah permen karet, atau membalas surel saat mengikuti konferensi video.

Sementara task-switching terjadi saat Anda berganti-ganti antara lembar kerja dan pesan instan.

Dalam kedua kasus, otak harus mengaktifkan kontrol kognitif, yang berfungsi seperti pengatur lalu lintas mental untuk menjaga fokus dan mengatur prioritas.

Stabilitas, Fleksibilitas, dan Harga yang Dibayar

Penelitian terbaru tentang kontrol kognitif menunjukkan bahwa otak terus-menerus menyeimbangkan antara stabilitas dan fleksibilitas.

Stabilitas membantu Anda tetap fokus pada satu tugas, sedangkan fleksibilitas memungkinkan Anda mengubah prioritas saat diperlukan.

Beralih dari satu mode ke mode lainnya tidak otomatis—dibutuhkan semacam perpindahan gigi mental yang menguras fokus. Namun, perlu ditegaskan bahwa multitasking tidak akan merusak otak secara permanen.

Penelitian saat ini tidak mendukung gagasan bahwa multitasking biasa menyebabkan kerusakan otak jangka panjang.

>>> Anggota Kongres AS: WNBA Akan Bangkrut Jika Caitlin Clark Pergi ke Eropa

Temuan yang lebih halus namun penting adalah bahwa ketika beberapa tugas menuntut perhatian, memori kerja, atau pengambilan keputusan, performa Anda bisa menurun.