Di tengah tuntutan hidup yang serba cepat, melamun kerap dianggap sebagai tanda kurang konsentrasi. Namun, aktivitas ini ternyata tidak selalu berdampak negatif.

Mengutip dari Time, manusia rata-rata menghabiskan sekitar 47 persen waktu sadarnya untuk melamun. Aktivitas ini memiliki peran penting bagi cara kerja otak dan kesehatan mental.

in1

>>> Lee Jae Yoon Perankan Jon Kim di The Season, Ini Profil dan Akun Instagramnya

Jenis-jenis Melamun

Melamun merupakan fenomena kompleks yang tidak selalu buruk, tergantung jenisnya. Berikut tiga jenis melamun yang perlu diketahui.

Pertama, melamun negatif.

Jenis ini berkaitan dengan pikiran yang berputar pada pengalaman buruk di masa lalu atau kekhawatiran berlebihan tentang masa depan.

Kedua, sulit mengontrol perhatian. Pada kondisi ini, seseorang kesulitan mempertahankan fokus pada satu tugas, sering terjadi pada individu dengan gangguan perhatian.

Ketiga, melamun konstruktif positif atau positive constructive daydreaming (PCD). Jenis ini melibatkan imajinasi positif dan kreatif, seperti merencanakan masa depan atau mencari solusi atas masalah.

PCD berperan penting dalam kreativitas dan kemampuan merencanakan karena menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kemungkinan di masa depan.

Melamun Tak Selalu Buruk

Melamun dikaitkan dengan aktivitas bagian otak default mode network (DMN). DMN adalah sistem pada otak yang aktif saat pikiran tidak sedang fokus pada tugas tertentu.

>>> Angela Lee Buktikan Ibu Bisa Jadi Juara Dunia Seni Bela Diri

DMN berperan dalam refleksi diri, memahami pengalaman pribadi, membangun skenario sosial, hingga merencanakan masa depan.

Penelitian menunjukkan aktivitas ini berkontribusi pada fungsi mental yang sehat, termasuk memori, kontrol impuls, dan pemrosesan emosi.

Di era digital, perhatian manusia terus dibombardir oleh notifikasi dan tuntutan multitasking. Kondisi ini membuat ruang untuk berpikir reflektif semakin sempit.

Melamun, terutama yang bersifat konstruktif, bisa menjadi jeda mental yang membantu otak memproses informasi dan menyusun ulang prioritas.

Meski memiliki manfaat, melamun tetap perlu dalam batas wajar. Dikutip dari Harvard Health Publishing, ada istilah maladaptive daydreaming, yaitu kondisi melamun berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi ini, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam lamunan, kesulitan menyelesaikan pekerjaan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan kecemasan, depresi, atau ADHD.

>>> 16 Wanita Buktikan Perubahan Kecil pada Penampilan Bisa Beri Hasil Luar Biasa

Alih-alih dihindari sepenuhnya, melamun lebih tepat dipahami kapan membantu dan kapan mulai mengganggu.