Pemerintah mulai khawatir bahwa bonus demografi yang menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan bertahan lama.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan bahwa jendela bonus demografi diperkirakan hanya tersisa satu dekade lagi.

in1

>>> Bahlil Ungkap Importir BBM Mulai Gerah, Impor Bensin RI Tinggal Separuh

"Bonus demografi itu akan habis 10 tahun dari sekarang. Jadi kalau kita tidak bekerja dengan baik, maka 2045 nanti itu sulit," kata Luhut, Jumat (26/6).

Peringatan ini muncul di tengah tantangan ekonomi seperti meningkatnya angka kemiskinan dan ketimpangan manfaat pertumbuhan.

Meski demikian, Luhut optimistis perekonomian bisa tumbuh jika pemerintah meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan potensi generasi produktif.

Ia menekankan bahwa bonus demografi bukan hanya soal jumlah penduduk usia kerja, tetapi juga kemampuan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas SDM.

Sinergi dan Transformasi Digital Jadi Kunci

Luhut menekankan pentingnya sinergi antar lembaga dan sektor untuk mempersiapkan Indonesia menghadapi akhir bonus demografi.

>>> Korban Penyekapan Bakal Terima Deposito Rp250 Juta dari Dedi Mulyadi

"Kalau kita semua kompak, saya kira tidak ada masalah," ujarnya.

Pemerintah juga mengandalkan transformasi digital melalui GovTech untuk meningkatkan efisiensi birokrasi dan menekan korupsi.

"GovTech ini akan pasti mengurangi korupsi. Dan teknologi ini semua dibuat oleh anak-anak Indonesia," kata Luhut.

Kekhawatiran ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyoroti anomali pertumbuhan ekonomi yang belum merata.

Pemerintah berupaya memperbaiki kebijakan agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat lebih luas dan memaksimalkan bonus demografi.

>>> Blok Kayu Jerman Bangun Struktur Rumah dalam 7 Hari Tanpa Semen

Jika gagal, Indonesia kehilangan modal besar menuju negara maju 2045. Namun jika berhasil, bonus demografi bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.