Sebuah studi yang diterbitkan pada 19 Mei 2026 di jurnal Biology of Sex Differences mengungkapkan bahwa faktor risiko demensia yang umum menyebabkan kerusakan kognitif lebih besar pada wanita dibandingkan pria.

Meskipun harapan hidup wanita yang lebih panjang sebagian menjelaskan mengapa demensia lebih sering menyerang mereka, penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan biologis yang lebih spesifik.

in1

>>> Marc Marquez Menangi MotoGP Ceko 2026, Dekati Tiga Besar

Kondisi kesehatan umum tidak hanya muncul pada tingkat yang berbeda antara kedua jenis kelamin, tetapi juga menyebabkan penurunan kognitif yang sangat berbeda.

Prevalensi versus Dampak Kognitif

Dr. Megan Fitzhugh dari UC San Diego School of Medicine dan rekan-rekannya menganalisis data dari Health and Retirement Study yang melacak lebih dari 17.000 orang dewasa AS berusia 40 tahun ke atas.

Tim peneliti memeriksa 13 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi, termasuk tingkat pendidikan, gangguan pendengaran, depresi, ketidakaktifan fisik, diabetes, merokok, hipertensi, obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, isolasi sosial, penglihatan buruk, dan tidur buruk.

Mereka memperlakukan prevalensi faktor risiko dan kerusakan aktual pada otak sebagai dua pertanyaan terpisah.

Para peneliti melacak kondisi mana yang lebih umum pada setiap jenis kelamin, lalu menganalisis seberapa kuat setiap faktor mengubah skor tes kognitif.

Dampak Tidak Setara dari Kondisi Kesehatan yang Sama

Studi ini mengonfirmasi tren yang sudah dikenal mengenai jenis kelamin mana yang lebih sering mengalami kondisi tertentu.

Wanita melaporkan tingkat depresi, ketidakaktifan fisik, dan masalah tidur yang lebih tinggi.

Sebaliknya, pria melaporkan lebih banyak gangguan pendengaran (64% versus 50%), diabetes (24% versus 21%), dan konsumsi alkohol berat (22% versus 12%).