Sebuah studi tahun 2025 meneliti multitasking melalui simulasi mengemudi.

Hasilnya, mencampur dua tugas dapat mengganggu performa, dan berpindah cepat antar tugas menambah kesulitan saat banyak hal harus dikoordinasikan.

in1

Ini tidak berarti semua multitasking berbahaya, tetapi menegaskan hukum sederhana: semakin banyak perhatian yang dibutuhkan setiap tugas, semakin mahal biaya kognitif untuk melakukannya bersama-sama.

Multitasking Digital: Masih Diperdebatkan

Dalam hal multitasking digital, situasinya lebih rumit.

Penelitian tahun 2023 tentang media multitasking—menggunakan beberapa layar atau perangkat sekaligus—menunjukkan bahwa hubungan antara multitasking dan perhatian berkelanjutan masih diperdebatkan.

Beberapa studi menemukan kaitan antara media multitasking dan kesulitan fokus, tetapi hasilnya bervariasi tergantung cara pengukuran.

Jadi, jika Anda merasa tidak bisa menonton film sambil mengirim pesan tanpa melewatkan alur cerita, Anda tidak sendirian—namun sains belum memiliki penjelasan yang rapi.

Kesimpulan dari neurosains: multitasking tidak selalu buruk bagi otak dalam arti menyebabkan cedera atau kerusakan terbukti.

Namun, gaya kerja ini menantang sistem perhatian Anda, membuat beberapa tugas menjadi lebih lambat, kurang akurat, atau lebih rentan terhadap gangguan.

>>> Eva Longoria Pamer Tubuh Indah dengan Bikini Putih di Pantai Spanyol

Dengan kata lain, multitasking tidak akan merusak otak Anda, tetapi pasti bisa membuatnya tersandung.