Pengamat politik Rocky Gerung meluncurkan buku terbaru berjudul "Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z". Buku ini ditulis bersama dosen Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman.

Dalam peluncuran tersebut, Rocky memuji PDI Perjuangan (PDIP) yang dinilainya konsisten menjaga dan menyebarkan gagasan Marhaenisme. "Kita beruntung PDIP masih merawat ide Marhaenisme sampai ke media sosial," ujarnya.

>>> Pemilik Bar di Rusia Dihukum 7 Tahun Penjara karena LGBT

Rocky menegaskan bahwa Marhaenisme bukan sekadar konsep masa lalu. Menurutnya, pemikiran Bung Karno itu merupakan falsafah bernegara dan gagasan sosial yang lahir asli dari Indonesia.

PDIP Ambil Alih Fungsi Kampus

Rocky menyoroti fenomena global di mana universitas mulai bergeser fungsi demi memenuhi kebutuhan pasar. Ia mencontohkan banyak program studi konvensional yang digantikan bidang kecerdasan buatan (AI).

Di tengah perubahan itu, Rocky menilai PDIP justru mengambil peran yang sebelumnya dijalankan kampus. "Fungsi kampus untuk menghasilkan meneruskan pikiran para founding parents kita.

Partai ambil alih untuk kebutuhan menghasilkan kader. PDIP mengambil alih universitas karena mau mengolah pikiran," kata Rocky.

>>> Mu'min Ali Gunawan Mundur dari Presiden Komisaris Panin Sekuritas

Ia juga mengungkapkan bahwa kaderisasi berbasis ideologi sempat stagnan selama bertahun-tahun. Banyak pihak enggan membahas Marhaenisme karena trauma politik masa lalu dan stigma yang mengaitkannya dengan PKI.

Melalui buku ini, Rocky dan Airlangga Pribadi Kusman ingin meluruskan anggapan tersebut secara akademis. "Kemewahan dari PDIP adalah dia punya akar sejarah yang kuat.

Tapi bertahun-tahun kaderisasi mandek karena takut bicara Marhaenisme akibat tuduhan PKI. Kita mau bongkar secara akademis, dari pikiran otentik negeri," tegasnya.

>>> Presiden Iran Tagih AS Cairkan Dana Rp107 Triliun yang Ditahan di Qatar

Rocky menutup dengan analogi bahwa Marhaenisme adalah cara Bung Karno mengangkat pikiran dari gorong-gorong untuk tiba di hotel berbintang.