"Burung itu kita ada kurang lebih sekitar 35 jenis, baik itu singgah ataupun hidup di area Kebun Raya Mangrove Surabaya," paparnya.

Tak hanya burung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis kupu-kupu dan kucing bakau yang keberadaannya pernah ditemukan berdasarkan hasil penelitian dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

>>> 3 Kesalahan Fatal Nagelsmann di Balik Kekalahan Jerman dari Paraguay

"Beberapa waktu lalu ada pencinta kupu-kupu datang ke Kebun Raya Mangrove, ternyata cukup banyak ragam kupu-kupu yang ada di Kebun Raya Mangrove," tuturnya.

Menurut Dian, keberadaan kucing bakau merupakan temuan penting karena satwa tersebut hidup liar dan tidak dapat dikembangbiakkan dalam penangkaran.

"Berdasarkan penelitian dosen Unesa pernah ditemukan kucing bakau. Dulu kita sempat ingin memperbanyak untuk menyelamatkan kelangkaannya, tetapi ternyata tidak bisa karena hidupnya memang liar," katanya.

Ia menilai, keberadaan kucing bakau menjadi salah satu indikator bahwa kualitas ekosistem mangrove di kawasan tersebut masih terjaga.

"Tidak banyak tempat ditemukan ada kucing bakau. Itu menunjukkan kalau ekosistemnya terjaga dengan baik dengan adanya keberadaan kucing bakau itu sendiri," sebutnya.

Selain itu, KRM Surabaya juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon, yakni sejenis kepiting bakau yang tidak dapat dikonsumsi karena mengandung zat beracun.

"Kalau buaya memang sempat ditemui di Avour Wonorejo. Tapi kalau di area (KRM) Gunung Anyar tidak ditemukan, adanya biawak," ungkapnya.

Saat ini, UPTD Kebun Raya Mangrove Surabaya mengelola dua kawasan.

Kedua kawasan tersebut meliputi Gunung Anyar-Medokan Sawah dan Wonorejo, dengan total luas sekitar 34 hektare.

Meski vegetasi mangrove yang rapat mampu mengurangi dampak abrasi, Dian mengakui sampah kiriman dari aliran sungai masih menjadi tantangan dalam menjaga kelestarian kawasan tersebut.

"Surabaya berada di wilayah hilir, sehingga pasti mendapat kiriman sampah dari berbagai daerah.

>>> Bayi Bisa Patah Tulang dalam Kandungan, Ini Penyebabnya

Apalagi kalau sampah sampai menyangkut di akar mangrove, itu bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mangrove itu sendiri," pungkasnya.