Pada tingkat yang lebih lanjut, pola ini bahkan bisa berlanjut hingga anak memasuki usia kuliah.

Misalnya, orang tua masih mengatur jadwal harian, mengingatkan tugas, hingga berkomunikasi dengan dosen atas nama anak.

Mengapa Orang Tua Melakukannya?

Ada berbagai alasan mengapa snowplow parenting bisa terjadi. Salah satunya adalah rasa khawatir yang berlebihan terhadap masa depan anak.

Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain: sikap terlalu melindungi karena tidak tega melihat anak gagal; persepsi dunia yang berbahaya, terutama dipengaruhi oleh informasi dari media; pengalaman pribadi orang tua yang ingin 'menghindarkan' anak dari kesalahan yang sama; kecemasan dan kebutuhan mengontrol; tekanan sosial dan budaya yang menekankan prestasi akademik; serta persaingan sosial.

Dampak Jangka Panjang pada Anak

Meski dalam jangka pendek snowplow parenting bisa membuat anak terlihat 'berhasil', misalnya mendapat nilai tinggi atau masuk sekolah favorit, dampaknya tidak selalu positif dalam jangka panjang.

Anak yang terbiasa 'dipermulus jalannya' berisiko mengalami kurangnya kemandirian, ketergantungan pada orang lain, kesulitan mengatur emosi, meningkatnya kecemasan, dan sikap merasa berhak (entitlement).

>>> Nadiem Makarim Jalani Sidang Vonis Kasus Chromebook Hari Ini

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak kesulitan menghadapi dunia nyata yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.