Selama ini banyak orang tua masih menjadikan nilai rapor dan prestasi akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan anak.

Padahal, bekal untuk menghadapi kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kemampuan mengelola emosi dan menjalin hubungan dengan orang lain.

>>> Serangan Israel Rusak Situs Bersejarah di Lebanon Selatan

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo mengatakan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan sosial (SQ) memiliki peran yang sama pentingnya dengan kecerdasan akademik dalam membentuk masa depan anak.

Menurut Ayoe, ketika memasuki usia dewasa, anak akan menghadapi berbagai tantangan yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan berpikir logis atau menyelesaikan soal pelajaran.

"Dalam dunia yang penuh tantangan, kelak anak-anak saat dewasa akan dituntut memiliki kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri secara sehat.

Begitu juga dengan kecerdasan sosial, di mana anak mampu memahami orang lain, berinteraksi dengan efektif, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain," ujar Ayoe dalam keterangannya saat sesi edukasi Family's Days Out Roadshow to Bandung.

Ayoe menjelaskan perkembangan emosi anak bukan hanya ditentukan oleh faktor biologis. Lingkungan keluarga, pola asuh, hingga budaya tempat anak tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kemampuan emosionalnya.

Menurut dia, setiap anak juga memiliki temperamen bawaan yang berbeda.

Ada anak yang sejak kecil cenderung mudah beradaptasi, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

"Ada anak yang memiliki temperamen bawaan mudah (easy child), tapi ada juga yang sulit atau lambat dan butuh adaptasi.

Ini semua terkait dengan perkembangan otak di lima tahun pertama. Faktor genetik menyumbang kurang lebih 50 persen pada stabilitas emosi.