Ingin anak tumbuh mandiri? Konsep free-range parenting disebut-sebut bisa menjadi jawabannya.

Pola asuh ini memberikan kebebasan pada anak, berbeda dengan pola asuh protektif yang banyak diterapkan saat ini.

>>> Pengisi Suara Senior Kenichi Suzumura Kembali Setelah Istirahat Empat Bulan

Free-range parenting mulai populer pada 2008 setelah kolumnis asal New York, Lenore Skenanzy, menulis artikel tentang membiarkan anaknya yang berusia 9 tahun naik kereta bawah tanah sendirian.

Ia memastikan anaknya bisa membaca peta dan membawa uang, meskipun sebagian orang menganggapnya seperti menelantarkan anak.

Skenanzy mendorong orang tua untuk berhenti terlalu protektif dan membesarkan anak yang mandiri. Dari sinilah istilah free-range parenting muncul.

Apa Itu Free-range Parenting?

Free-range parenting adalah pola asuh di mana orang tua membiarkan anak memiliki kemandirian dan tidak mengawasi setiap saat.

Pola ini melibatkan banyak kegiatan bermain di luar ruang, aktivitas tanpa jadwal, dan sikap santai terhadap aturan.

Para pendukung menegaskan bahwa ini bukan permisif atau tidak terlibat, melainkan memberi anak kebebasan mengalami konsekuensi alami dengan tetap memperhatikan standar keamanan.

Tujuannya agar anak memiliki keterampilan menjadi dewasa yang bertanggung jawab.

Namun, tidak ada jawaban pasti kapan anak siap bertanggung jawab.

Apa yang dianggap normal di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lain, seperti usia boleh tinggal sendiri di rumah atau berjalan sendiri.

>>> Safari Politik Jokowi ke Lampung Dinilai Berdampak pada Peta 2029

Karakteristik Free-range Parenting

Berikut beberapa karakteristik free-range parenting menurut Parents.

1. Banyak ruang aktivitas tidak terjadwal.

Anak didorong bermain tanpa struktur waktu yang jelas, bukan mengikuti les. Mereka bebas berkreasi sesuai minat, meski batasan waktu tetap perlu diperhatikan.

2. Bermain di alam.

Anak sering diajak bermain di luar ruang, seperti kebun atau perbukitan, sebagai pengganti gawai. Harapannya, anak bisa menghibur diri tanpa tergantung teknologi.

3. Anak memperoleh kemandirian.

Secara bertahap, anak mendapat kebebasan dan tanggung jawab lebih besar. Fokusnya adalah anak bisa mencoba hal baru dan menyelesaikan tugas sendiri, bahkan yang sulit.

4. Orang tua tidak mengasuh berdasarkan ketakutan.

>>> Iran Kuasai Penuh Selat Hormuz Selama 30 Hari Hasil Negosiasi dengan AS

Meski keselamatan tetap prioritas, orang tua tidak perlu terlalu khawatir. Misalnya, saat anak bermain sepeda, pastikan helm dipakai, tapi sadari bahwa kecelakaan bisa terjadi di mana saja.