Co-CEO DC Studios, Peter Safran, akhirnya buka suara mengenai performa akhir pekan perdana film Supergirl.

Ia mengakui bahwa film kedua dari DCU yang dibangun bersama James Gunn itu gagal memenuhi ekspektasi pasar.

>>> Shadowcast Pictures Tutup, Tambah Daftar Perusahaan Hollywood yang Gulung Tikar

Meski modal produksi mencapai US$175 juta, Safran menegaskan hasil tersebut tidak menggoyahkan rencana besar studio ke depan.

Ia meminta publik melihat proyek ini sebagai bagian dari peta jalan komprehensif yang masih panjang.

"Meskipun Supergirl tidak memenuhi ekspektasi box office kami, ini hanya salah satu komponen dari strategi jangka panjang yang lebih luas di DC Studios," kata Safran kepada The New York Times, Minggu (28/6).

"Kami tetap percaya diri dengan hal tersebut."

Sejauh ini, Supergirl tercatat mengantongi US$38 juta di pasar domestik Amerika Utara dan US$68 juta secara global.

Lesunya penjualan tiket pada pekan pembuka ini disinyalir dipengaruhi gelombang panas ekstrem dan kompetisi Piala Dunia.

>>> Toy Story 5 Kukuh di Puncak Box Office, Supergirl Tercecer

Sebagai perbandingan, raihan domestik Supergirl hanya unggul tipis dari pembukaan Joker: Folie a Deux yang mengemas US$37,6 juta.

Namun secara global, performa Supergirl tertinggal jauh dari sekuel Joker yang debut dengan US$114,8 juta pada 2024.

Rekor IMAX dan Proyek Mendatang

Meski dianggap kurang memuaskan, Supergirl justru mencatat rekor sebagai film pahlawan super dengan persentase pembukaan akhir pekan tertinggi dalam sejarah IMAX.

Sekitar 51 persen total pendapatan bioskop disumbang format IMAX dan Premium Large Format (PLF), dengan pendapatan dari IMAX mencapai US$7,4 juta.

DC Studios kini mengalihkan fokus pada proyek mendatang.

>>> BE:FIRST Akhirnya ke Jakarta, Tampil di LaLaLa Festival 2026

Film Clayface garapan James Watkins dijadwalkan tayang 23 Oktober, disusul Man of Tomorrow karya James Gunn pada 9 Juli 2027, serta serial Lanterns yang akan tayang di HBO tahun ini.