Film biopik Michael Jackson, 'Michael', resmi menjadi film biopik terlaris sepanjang masa. Pendapatannya mencapai $977,4 juta setelah dirilis di Jepang, mengalahkan 'Oppenheimer' karya Christopher Nolan.

Kesuksesan ini menunjukkan bahwa bioskop masih mampu menarik penonton di era streaming. Namun, pencapaian tersebut tidak serta merta membuat semua orang terkesan.

>>> Sindikat Judol Hayam Wuruk Samarkan Aktivitas sebagai Perusahaan Teknologi

Banyak kritikus menilai 'Michael' sebagai film yang dangkal. Skor Rotten Tomatoes hanya 38% dari kritikus, menunjukkan kualitas yang jauh dari kata memuaskan.

Biopik: Genre yang 'Malas'?

Biopik sering dianggap sebagai 'jalan pintas' dalam industri film. Mereka mengandalkan basis penggemar yang sudah ada, bukan orisinalitas cerita.

Beberapa biopik memang berhasil secara artistik, seperti 'Rocketman' dan 'Better Man'. Namun, banyak lainnya seperti 'Bohemian Rhapsody' dianggap hambar dan tidak berani.

Masalah utama biopik adalah kecenderungan untuk menghaluskan kontroversi. Dalam kasus 'Michael', film ini menghindari tuduhan pelecehan anak terhadap Jackson dengan mengakhiri cerita di tahun 1980-an.

>>> EQ dan SQ Anak Sama Pentingnya dengan Nilai Akademik

Keterlibatan estate Jackson sebagai produser turut memengaruhi isi film. Adegan tentang tuduhan pelecehan dihapus karena klausul penyelesaian dengan salah satu penuduh.

Dampak Kesuksesan Finansial

Keberhasilan 'Michael' diprediksi akan memicu lebih banyak biopik serupa. Sekuel pun sudah dikonfirmasi, dengan klaim 25-30% materi sudah direkam.

Namun, kesuksesan finansial bukanlah tolok ukur kualitas. Banyak film orisinal dan berani seperti 'Sinners' atau 'Marty Supreme' justru kurang mendapat perhatian.

>>> Serangan Israel Rusak Situs Bersejarah di Lebanon Selatan

Pada akhirnya, penonton perlu kritis terhadap apa yang mereka tonton. Jangan biarkan angka box office mengaburkan penilaian terhadap sebuah film.