Tangisan anak sering kali membuat orang tua panik dan ingin segera menghentikannya. Namun, respons yang salah justru dapat berdampak negatif pada perkembangan emosi anak.

Menangis bukan sekadar luapan emosi, melainkan cara anak menyampaikan perasaan yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk merespons dengan tepat.

>>> Pembalap Bantul Terinjak di Rodeo New York, Video Syok Beredar

Kesalahan yang Sering Terjadi

Berikut lima kesalahan orang tua saat anak menangis yang sebaiknya dihindari.

1. Langsung menyuruh anak berhenti menangis.

Kalimat seperti "Sudah, jangan nangis" membuat anak belajar menekan emosi, bukan mengelolanya. Sebaiknya akui perasaannya, misalnya "Kamu sedih karena mainannya rusak, ya?"

2. Terlalu cepat mengalihkan perhatian atau memberi hadiah.

Menawarkan camilan atau gawai memang menghentikan tangisan sementara, tetapi emosi anak tidak terselesaikan. Anak perlu kesempatan merasakan emosinya sebelum menenangkan diri.

3. Menganggap penyebab tangisan anak sepele.

Bagi anak, biskuit patah atau mainan rusak bisa terasa sangat besar. Jangan meremehkan, karena bisa jadi tangisan itu akumulasi kelelahan atau kekecewaan seharian.

>>> Presiden Korsel Ikut Kritik, Pelatih Hong Myung-bo Resmi Mundur

4. Merespons anak dengan emosi.

Tangisan anak sering memicu stres orang tua. Membentak atau memarahi hanya memperburuk situasi.

Ambil jeda, atur napas, lalu respons dengan tenang.

5. Membandingkan respons anak dengan anak lain.

Kalimat seperti "Temanmu tidak menangis" membuat anak merasa perasaannya tidak diterima. Setiap anak memiliki kemampuan mengelola emosi yang berbeda.

Pada akhirnya, kesalahan orang tua saat anak menangis bukan hanya soal ucapan, tetapi juga cara memandang tangisan itu sendiri.

Menerima tangisan sebagai bagian normal perkembangan emosi anak akan membantu orang tua memberikan dukungan yang tepat.

>>> Nagelsmann Peringatkan Jerman agar Tak Ulangi Kesalahan Lawan Ekuador

Dengan begitu, anak merasa aman dan belajar mengenali, menerima, serta mengelola emosinya secara sehat hingga dewasa.