Pada 2024, China menguasai 91% produksi tanah jarang olahan untuk magnet dan 94% produksi magnet sinter permanen.

Magnet tersebut vital untuk motor listrik, turbin angin, elektronik canggih, dan teknologi militer. Namun, permintaan mineral untuk teknologi bersih justru berasal dari lanskap yang sudah tertekan lingkungan.

Kereta api memang lebih bersih dibanding konvoi truk, tetapi peneliti memperingatkan risiko degradasi tanah, penggurunan, dan berkurangnya keanekaragaman hayati di koridor China-Mongolia-Rusia.

Pertanyaan tentang dampak terhadap air, debu, habitat, dan komunitas lokal masih belum terjawab.

Pada 17 Juni, protes di Mongolia memblokir ekspor tembaga dari tambang Oyu Tolgoi, menuntut bagi hasil yang lebih besar bagi rakyat Mongolia.

Insiden ini menunjukkan bahwa masa depan mineral kritis tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga siapa yang diuntungkan.

CHN Energy menyatakan bahwa bagian China telah menyelesaikan instalasi struktural inti dan akan melanjutkan ke pembangunan dek jembatan.

>>> Sapi Terlupakan di Pulau Terpencil Bertahan 130 Tahun, Ilmuwan Terpesona

Proyek ini dijadwalkan beroperasi pada 2027, membuka jalur angkutan baru yang dapat membentuk rantai pasok regional.