China tengah membangun jalur kereta api lintas batas sepanjang sekitar 1.800 kilometer yang melintasi Gurun Gobi.

Proyek ini dirancang untuk memperkuat pasokan mineral penting seperti batu bara dan tembaga dari Mongolia.

>>> Samsung Dikabarkan Kembangkan Ponsel Rollable, Siap Rilis 2028

Meski sempat beredar klaim tentang jembatan layang raksasa, proyek yang dimaksud adalah jalur kereta api baru antara Ganqimaodu di China dan Gashuun Sukhait di Mongolia.

Jalur ini akan menjadi koridor angkutan barang utama di kawasan perbatasan yang keras.

Konstruksi dan Tantangan di Gurun Gobi

Perusahaan energi milik negara, CHN Energy, mengumumkan bahwa pemasangan 94 balok T pada bagian China telah selesai pada 13 Juni.

Balok beton prategang seberat hingga 165 ton itu akan menjadi dasar pembangunan jembatan dan rel.

Gurun Gobi bukan lokasi konstruksi yang ramah. Angin kencang sepanjang tahun dan badai pasir yang sering membuat pekerjaan pengangkatan di ketinggian sangat berbahaya.

Presisi hingga level milimeter diperlukan saat menempatkan balok raksasa di atas pilar.

Mineral di Balik Proyek

Jalur kereta ini dirancang untuk mengangkut hingga 33 juta ton barang per tahun, terutama batu bara dan tembaga.

Mongolia Selatan memiliki tambang Oyu Tolgoi yang diperkirakan menjadi tambang tembaga terbesar keempat dunia pada 2030, dengan produksi puncak 551.000 ton per tahun.

Tambang batu bara Tavantolgoi juga memiliki cadangan 6,5 miliar ton, termasuk batu bara kokas yang masuk sepuluh besar dunia.

>>> Samsung Investasi Rp 2.665 Triliun untuk Infrastruktur AI

Kekayaan mineral inilah yang membuat jalur kereta pendek ini memiliki bobot strategis besar.

China saat ini menjadi pemurni utama untuk 19 dari 20 mineral strategis, menguasai sekitar 50% produksi smelter tembaga global.