Setelah populer saat pandemi COVID-19, jahe merah kembali naik daun di dunia pengobatan alami.

Di balik popularitasnya, muncul varietas unggulan bernama Jahira yang menarik perhatian akademisi, petani, dan industri herbal.

>>> Samsung Galaxy M47 5G Resmi Meluncur di India, Bawa Layar 120Hz dan Baterai 6000mAh

Kepala BRMP TROA Kementerian Pertanian, Prima Luna, mengungkapkan bahwa kualitas jahe merah di masyarakat tidak seragam.

"Tanaman obat seperti jahe merah harus memiliki informasi lengkap mengenai asal benih dan jenisnya, karena memengaruhi kandungan komponen aktif hingga morfologi," ujarnya.

Jahira merupakan varietas Zingiber officinale var. rubrum hasil pemuliaan nasional yang dirancang untuk standarisasi industri.

Penelitian menunjukkan kadar gingerol dan shogaol Jahira jauh lebih tinggi dari jahe merah biasa, menjadikannya agen antiinflamasi, antioksidan, dan peningkat imunitas superior.

Jembatan Tradisi dan Sains Global

Indonesia memiliki kekayaan herbal melimpah, namun potensi ini sering berhenti di tradisi lokal.

Industri kesehatan global kini bergerak ke paradigma preventif, menuntut standarisasi ilmiah agar warisan leluhur tidak dipandang sebelah mata.

Kehadiran Jahira memecah kebuntuan tersebut. Varietas ini dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan standarisasi industri modern melalui riset agronomis dan pemuliaan terukur.

Keunggulan Jahira terletak pada konsistensi kualitas rimpang, produktivitas tinggi, dan profil senyawa bioaktif superior.

Kandungan flavonoid serta kapasitas antioksidannya jauh lebih tinggi, dengan gingerol, shogaol, paradol, dan zingerone yang bekerja sinergis melindungi sel dari radikal bebas.

"Keunggulan Jahira secara spesifik terletak pada kadar gingerol yang sangat tinggi.

Komponen ini efektif meningkatkan daya tahan tubuh dan memberikan efek termogenik konsisten, baik untuk melegakan gejala masuk angin," papar Prima Luna.