Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan bahwa nilai impor sektor pertanian Indonesia turun sekitar Rp41 triliun dalam setahun terakhir.

Meski demikian, Indonesia masih membelanjakan lebih dari Rp300 triliun untuk impor kebutuhan pertanian. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan produksi dalam negeri.

>>> Pakar Ungkap Penyebab Eropa Dihantam Gelombang Panas Terparah

"Yang menarik adalah impor kita sudah turun Rp41 triliun, tetapi masih ada Rp300 triliun lebih," kata Amran dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (29/6).

Di sisi lain, ekspor pertanian mencapai Rp760 triliun, naik Rp166 triliun selama sekitar satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Amran menekankan bahwa nilai impor yang masih besar menunjukkan ketergantungan Indonesia pada komoditas luar negeri. Pemerintah terus mendorong produksi komoditas strategis di dalam negeri.

Fokus pada Bawang Putih dan Kedelai

Salah satu komoditas yang menjadi fokus adalah bawang putih. Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan produksi bawang putih dalam negeri.

Selain itu, pemerintah mengembangkan budidaya kedelai. Amran menyebut produktivitas kedelai saat ini mencapai sekitar 3 ton per hektare.

>>> Purbaya Buka Suara Soal Insentif EV Kembali Ditunda ke Agustus

Upaya menekan impor juga dilakukan di sektor peternakan melalui pengembangan bahan baku pakan. Di bidang pupuk, pemerintah menguji coba pupuk berbahan baku batu bara bernama Kalium Humat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas, termasuk serealia yang menjadi penyumbang defisit perdagangan nonmigas.

Pada Januari-April 2026, impor serealia dari Australia mencapai US$507,48 juta dan dari Argentina US$810 juta.

Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia pada periode tersebut mencapai US$86,51 miliar, naik 13,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

>>> Pelatih Jepang Rombak Skenario Adu Penalti Lawan Brasil di Piala Dunia

Kenaikan impor terutama ditopang oleh bahan baku atau penolong. Neraca perdagangan barang Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$5,64 miliar.