Kementerian Pertahanan (Kemhan) angkat bicara terkait meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSD) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menegaskan bahwa pelatihan tersebut tidak bertujuan mencetak prajurit.

>>> Cara Cek Daftar 3 Bantuan Sosial Pemerintah yang Cair Juli 2026

"Kami tegaskan bahwa kegiatan ini tidak bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer," ujar Ketut dalam konferensi pers di Jakarta.

Peserta tetap dipersiapkan sebagai tenaga sipil yang akan mengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Latihan untuk Bangun Karakter

Menurut Ketut, latihan bela negara dan manajerial dirancang untuk menanamkan nilai kepemimpinan, disiplin, integritas, dan kemampuan bekerja dalam tekanan.

Hubungan pelatihan dengan sektor pertahanan terletak pada peran strategis KDKMP dan KNMP dalam memperkuat ekonomi masyarakat.

>>> Keluarga dr Icha Laporkan 3 Anggota DPRD TTU, Polisi Selidiki Dugaan Intimidasi

"Ekonomi kerakyatan yang kokoh menjadi bagian penting dari ketahanan nasional," jelasnya.

Selama pelatihan, peserta mendapat materi pembentukan disiplin melalui kegiatan fisik dan dasar kemiliteran seperti Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan Peraturan Penghormatan Militer (PPM).

Setelah latsarmil, calon pengelola KDKMP akan mendapat materi dari Kementerian Koperasi, sedangkan peserta KNMP dari Kementerian Kelautan.

>>> IHSG Pekan Ini Diprediksi Masih Tertekan, Ini Rekomendasi Saham dari Analis

Lima peserta SPPI dilaporkan meninggal saat mengikuti latihan di satuan pendidikan TNI. Penyebab kematian bervariasi, antara lain henti jantung, heat stroke, dan tuberkulosis.