Puncak hujan meteor Bootids akan menghiasi langit malam Indonesia pada Sabtu (27/6) mulai dari Matahari terbenam.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi gugusan debu sisa komet yang masuk ke atmosfer. Debu-debu itu terbakar dan tampak seperti bintang jatuh dalam jumlah relatif banyak.

in1

>>> Kemenhan Bantah Latihan Fisik Berat Jadi Penyebab 5 Peserta SPPI Meninggal

Nama Bootids merujuk pada titik pancar fenomena ini yang berada di rasi Bootes, di langit bagian utara. Hujan meteor Bootids merupakan jejak debu dan es dari komet Pons-Winnecke.

Pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat khusus. Cukup arahkan pandangan ke langit utara setelah magrib.

Penjelasan BRIN dan Intensitas Meteor

Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, mengatakan hujan meteor merupakan fenomena tahunan.

Ia menjelaskan bahwa Bumi, sepanjang orbitnya mengitari Matahari, beberapa kali menembus gugusan debu sisa komet.

>>> Kepuasan Peserta Tembus 98,7, Taspen Lanjutkan Transformasi Layanan

Jumlah meteor per jam pada hujan meteor Bootids sulit diprediksi.

Kerapatan debu di sepanjang jalur jejak komet tidak merata, sehingga intensitasnya bisa sangat bervariasi, mulai dari beberapa meteor per jam hingga puluhan.

Pada 1998, hujan meteor Bootids pernah menghasilkan sebanyak 100 meteor per jam. Sementara pada 2004, para pengamat langit menyaksikan sekitar 20-50 meteor per jam.

Para astronom mengatakan meteor Bootids memasuki atmosfer dengan perlahan. Akibatnya, meteor mungkin tampak sebagai jejak yang panjang dan lambat, bukan kilatan cepat.

>>> Cerita Oma Kiyowo Berjualan Charm demi Tetap Aktif di Usia Senja

Untuk pengamatan optimal, disarankan memilih lokasi terbuka yang jauh dari polusi cahaya perkotaan. Medan pandang yang luas membantu menangkap lebih banyak meteor yang melintas.