Kementerian Pertahanan (Kemenhan) membantah anggapan bahwa meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) disebabkan oleh latihan fisik yang berlebihan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Wastia mengatakan kurikulum Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dirancang secara bertahap.

in1

>>> Kepuasan Peserta Tembus 98,7, Taspen Lanjutkan Transformasi Layanan

"Kegiatan-kegiatan fisik sesuai dengan yang sudah dilaksanakan itu adalah senam, kemudian jalan, PBB (Peraturan Baris Berbaris), dan PPM (Peraturan Penghormatan Militer).

Jadi belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat," ujar Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Ketut, fase awal pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kedisiplinan melalui pendidikan bela negara.

Ia menjelaskan pelatihan bagi peserta SPPI tidak hanya berisi pendidikan dasar kemiliteran, tetapi juga pembekalan kompetensi untuk mendukung program strategis pemerintah.

"Kemudian dihadapkan dengan kegiatan national building ini juga baru berlanjut ke manajerialnya secara paralel yaitu materi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diampu oleh Kementerian Koperasi," katanya.

"Kemudian manajerial Kampung Nelayan Merah Putih yang diampu oleh Kementerian Kelautan," lanjut Ketut.

>>> Cerita Oma Kiyowo Berjualan Charm demi Tetap Aktif di Usia Senja

Penjelasan tersebut disampaikan Kemenhan untuk merespons spekulasi yang berkembang terkait dugaan intensitas latihan fisik sebagai penyebab meninggalnya lima peserta SPPI.

Kelima peserta yang meninggal dunia masing-masing adalah Yonanda Muhammad Taufiq dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Anisa Muyassaroh dari Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Novia Rahmadhani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon Para Raider 465, serta Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan.

Sebelumnya, Kemenhan telah memaparkan hasil evaluasi medis terhadap kelima peserta tersebut. Berdasarkan pemeriksaan resmi, penyebab kematian masing-masing peserta berbeda dan tidak berasal dari satu faktor yang sama.

Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat peserta yang meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung, heat stroke, tuberkulosis (TB) paru aktif, serta pneumonia yang disertai komplikasi medis.

Sementara itu, satu kasus lainnya masih dalam proses pendalaman.

>>> Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai Usai Serangan Baru

Kemenhan juga menegaskan seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan serta memperoleh penanganan medis sesuai prosedur ketika mengalami gangguan kesehatan.