Startup deep-tech asal Eropa, SOLiTHOR, mengumumkan keberhasilan membangun sel demonstrasi solid-state berkapasitas 10 Ah dalam format pouch.

Baterai ini dirancang untuk aplikasi di sektor aerospace, maritim, transportasi, dan pertahanan, di mana bobot ringan sangat krusial.

in1

>>> Jakarta Bangun 11 Rusun Baru pada 2027, Ini Daftar Lokasi dan Cara Mendapatkannya

Kepadatan energi yang dilaporkan mencapai 465 watt-jam per kilogram, setara dengan 211 watt-jam per pon, serta 1.400 watt-jam per liter.

Sel Lebih Besar dengan Ambisi Besar

Sel demonstrasi 10 Ah ini penting karena skala sering menjadi batu sandungan bagi banyak teknologi baterai.

Kimia yang bekerja di sampel laboratorium kecil bisa berperilaku berbeda saat dibangun ke dalam sel pouch multilayer yang lebih besar.

SOLiTHOR mengatakan hasil ini dicapai dengan menggabungkan Solid Composite Electrolyte miliknya dengan katoda berdaya muat tinggi.

Katoda tersebut memiliki kapasitas area 8 mAh/cm², yang menjadi kunci di balik kepadatan energi yang dilaporkan.

Tidak seperti sel lithium-ion cair atau pendekatan semi-solid, SOLiTHOR menggunakan kimia sol-gel yang tidak memerlukan pengisian elektrolit cair.

“SOLiTHOR telah mengembangkan kimia yang memungkinkan industri memikirkan ulang manufaktur sel baterai solid-state,” kata Dr. Fanny Bardé, salah satu pendiri dan chief technology officer perusahaan.

Mengapa Drone dan Pertahanan Peduli

Pada suhu 77°F, sel pouch multilayer SOLiTHOR menunjukkan laju pengosongan kontinu hingga 5C dengan kehilangan kapasitas minimal.

Angka tersebut menggambarkan seberapa cepat baterai dapat mengirimkan daya relatif terhadap kapasitasnya.

Hal ini penting ketika kendaraan udara nirawak membutuhkan semburan daya saat lepas landas atau mendarat.

Sel-sel tersebut juga menangani pulsa 10C selama 30 detik pada 50% state of charge.