Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkap kronologi meninggalnya Nola Dya Sari, peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026.

Ia wafat saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Kalimantan.

in1

>>> PNM Salurkan Beasiswa untuk 1.590 Anak Nasabah, Bidik Akses Pendidikan

Kepala BPSDM Kemenhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan menjelaskan, pada Jumat (26/6/2026) Nola mengikuti pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan di kelas tanpa keluhan.

Namun sekitar pukul 18.45 WIB, ia mulai mengeluhkan sesak napas dan badan terasa panas.

Tim kesehatan satuan pendidikan memberikan penanganan awal, lalu merujuk Nola ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Ia tiba pukul 19.20 WIB dan mendapat pemeriksaan medis.

Setelah kondisinya stabil, tim medis merujuk Nola ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk penanganan lebih lanjut.

Ia tiba pukul 20.20 WIB dan langsung ditangani, namun kondisinya memburuk hingga mengalami henti jantung.

>>> Mulai Juli, AirAsia Hentikan Penerbangan Langsung Singapura-Jakarta

Tim dokter melakukan resusitasi dan kardioversi, tetapi tidak berhasil.

"Pada pukul 21.03 WIB, almarhumah dinyatakan meninggal dunia," ujar Ketut dalam konferensi pers di Gedung Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Sebelum mengikuti program SPPI, Nola telah lulus seleksi kesehatan, meski hasil pemeriksaan mencatat kelebihan berat badan. Kemenhan menyatakan peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penyelenggaraan latsarmil.

Atas arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, penyelenggara memperkuat pemeriksaan kesehatan berkala, menyesuaikan intensitas kegiatan, serta berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan rumah sakit TNI.

>>> Jokowi ke Kader PSI: Hidupkan Mesin Partai, Yakin Lolos ke Senayan

Nola menjadi korban kelima yang meninggal dalam latsarmil Kopdes Merah Putih.