Polisi San Diego (SDPD) semakin sering menggunakan kekerasan dalam interaksi dengan warga, meskipun angka kejahatan di kota itu menurun.

Data yang diperoleh Times of San Diego menunjukkan kesenjangan rasial dalam penggunaan kekerasan semakin melebar dalam tiga tahun terakhir.

in1

>>> Ada Fun Walk Hari Bhayangkara, Sejumlah Rute Layanan TJ Diubah Besok

Petugas SDPD tujuh kali lebih mungkin menggunakan kekerasan terhadap warga kulit hitam dibandingkan kulit putih.

Sementara itu, warga Hispanik hampir dua kali lebih mungkin mengalami kekerasan dibandingkan kulit putih.

Angka Penggunaan Kekerasan Meningkat Tajam

Times of San Diego menganalisis laporan penggunaan kekerasan polisi dari 2017 hingga 2025.

Setelah menyesuaikan dengan jumlah penduduk, ditemukan bahwa 17,4 dari setiap 1.000 warga kulit hitam di San Diego mengalami kekerasan polisi pada 2025.

Angka itu hampir tujuh kali lipat dibandingkan warga kulit putih, yang hanya 2,5 per 1.000 orang.

Tingkat penggunaan kekerasan terhadap warga kulit hitam pada 2025 sedikit di bawah puncak 17,9 per 1.000 pada 2023, tetapi masih jauh di atas level 2017 yang sebesar 12 per 1.000.

Kesenjangan juga terlihat pada warga Hispanik.

Pada 2017, rasio penggunaan kekerasan terhadap warga Hispanik sama dengan kulit putih, yaitu 2,3 per 1.000.

Namun pada 2025, angka itu hampir dua kali lipat menjadi 4,5 per 1.000.

Sementara itu, rasio untuk warga kulit putih relatif stabil sejak 2017, hanya naik sedikit dari 2,3 menjadi 2,5 per 1.000 pada 2025.

Laporan Sebelumnya dan Respons Polisi

Kesenjangan rasial dalam penggunaan kekerasan SDPD sudah terlihat sejak lama.

Pada 2021, departemen merilis laporan Center for Policing Equity yang menemukan bahwa 26% insiden penggunaan kekerasan antara 2016-2020 menimpa warga kulit hitam, padahal mereka hanya 6,2% dari populasi.