Pada musim panas 2024, lapisan es Greenland kehilangan sekitar 80 miliar ton es. Meski bukan rekor, ini menandai tahun ke-28 berturut-turut Greenland mengalami penyusutan es.

Para ilmuwan sepakat bahwa meskipun lapisan es Arktik belum mencapai titik keruntuhan yang tak terhindarkan, pemanasan akibat aktivitas manusia membuatnya semakin dekat.

in1

>>> Pramono Ucapkan Terima Kasih ke ARMY Usaha BTS Tambah Konser di Jakarta

Seberapa Dekat Titik Kritis?

Peneliti Eropa dalam jurnal The Cryosphere membangun model untuk mensimulasikan keseimbangan massa permukaan lapisan es Greenland.

Mereka menemukan bahwa titik kritis tercapai ketika lapisan es kehilangan sekitar 230 miliar ton es dalam satu tahun.

Kondisi itu setara dengan pengurangan 60% dari luas es pra-industri yang mencapai 1,7 juta kilometer persegi. Skenario ini terjadi pada pemanasan global sekitar 3,4°C.

Dengan kebijakan saat ini, dunia diperkirakan mengalami pemanasan 3,2°C pada tahun 2100. Artinya, kita berada di ambang batas kritis.

Jika titik kritis terlewati, seluruh lapisan es Greenland akan lenyap dalam beberapa ribu tahun.

Konsekuensinya sangat dramatis: permukaan laut naik lebih dari 6 meter, mengancam miliaran orang di pesisir.

Mekanisme Baru Mempercepat Krisis

Studi lain mengungkapkan bahwa pencairan gletser terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Peneliti dari Max Planck Institute menemukan alga yang berkembang di gletser Greenland menggelapkan permukaan es, mengurangi kemampuannya memantulkan sinar matahari.

>>> Kalender Juli 2026: Tidak Ada Libur Nasional, Ini Daftar Hari Besar

Akibatnya, suhu meningkat dan pencairan semakin cepat. Di Greenland barat, sekitar sepersepuluh pencairan es disebabkan oleh mikroorganisme ini.

Model baru juga menyoroti Greenland barat sebagai wilayah krusial. Saat es mencair, tekanan pada batuan berkurang dan tanah naik.