Tren lari kian populer, dari 5K hingga marathon. Namun, memaksakan diri tanpa persiapan bisa berbahaya.

Salah satu risiko serius adalah rhabdomyolysis, yaitu kerusakan otot yang melepaskan zat beracun ke aliran darah dan membebani ginjal.

in1

>>> Strategi Pilih Reksa Dana dan Obligasi saat BI Rate Naik

Menurut Cleveland Clinic, rhabdomyolysis terjadi saat jaringan otot rangka rusak cepat. Protein mioglobin dan elektrolit keluar dari sel otot dan masuk ke darah.

Mioglobin dalam jumlah banyak dapat mengganggu fungsi ginjal. Jika terlambat ditangani, bisa menyebabkan cedera ginjal akut atau acute kidney injury.

Pelari jarak jauh tanpa persiapan cukup, dehidrasi, atau memaksakan diri saat lelah perlu waspada.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala rhabdomyolysis tidak selalu langsung terasa. Tanda bisa muncul satu hingga tiga hari setelah kerusakan otot.

Keluhan meliputi kelelahan ekstrem, nyeri atau lemah otot, mual, dehidrasi, buang air kecil berkurang, dan urine berwarna gelap.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Tunggul Situmorang, mengatakan kondisi ini terjadi saat seseorang memaksakan aktivitas meski tubuh sudah kelelahan berat.

"Dia kelelahan akut.

Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dia, dikutip dari detikHealth, Rabu (24/6).

Tunggul menekankan pentingnya penanganan cepat agar tidak berkembang menjadi cedera ginjal akut.

>>> Hasil Piala Dunia: Canobbio Kartu Merah, Spanyol Singkirkan Uruguay

Perubahan warna urine berkaitan dengan mioglobin, protein dari otot yang rusak. Jika cepat ditangani, kondisi ini umumnya reversible.

Siapa yang Berisiko?

Menurut Tunggul, rhabdomyolysis sering terjadi saat tubuh dipaksa bekerja terlalu keras tanpa persiapan memadai. Pemanasan yang tidak gradual menjadi salah satu penyebab.