>>> Kasus Ebola Terdeteksi di Prancis, Berasal dari Wabah di Kongo

Pertama, teknologi yang semakin murah. Beberapa platform kecerdasan buatan bahkan menyediakan fasilitas gratis untuk menggunakan aplikasi buatan mereka.

in1

Kedua, teknologi AI semakin mudah digunakan.

Tanpa belajar secara khusus dan hanya berbekal menonton video tutorial di YouTube, bertanya ke yang lebih ahli, hingga coba-coba sendiri, orang sudah bisa menghasilkan konten-konten AI yang bersifat komunikatif.

Ketiga, hasil konten buatan AI sudah sangat memuaskan hingga susah dibedakan antara yang nyata dengan artifisial.

"Nah itu tiga-tiganya itu memancing orang untuk menggunakan secara masif di berbagai macam kegiatan," jelas dia.

Alfons Tanujaya, pengamat digital, menyatakan hal serupa.

Menurut dia hal ini menjadi tren karena AI saat ini mampu menghasilkan gambar, video, dan suara yang semakin mirip dan makin sulit dibedakan dari konten asli.

"Hal ini sudah merambah ke industri modelling, di mana model AI atau konten creator AI juga banyak yang memiliki follower lebih tinggi dari konten creator asli," papar Alfons.

Lebih lanjut, sebagian besar pengguna yang belum memahami perkembangan ini, menurut Alfons, akan mudah mempercayai konten AI sebagai konten buatan manusia.

Menurutnya, dampak konten, positif atau negatif, tetap bergantung pada niat dan isi pesan, bukan semata-mata pada apakah pembuatnya AI atau manusia.

Namun Alfons menekankan bahwa risiko terbesar muncul ketika identitas pengelola tidak diketahui secara jelas.

Jika tidak diawasi dengan baik dan penyedia konten tidak diketahui identitasnya, akan sulit dilacak oleh pihak berwenang atau dimintai pertanggungjawaban.

>>> Netanyahu: Saya Tidak Pernah Minta Izin Trump Serang Iran

"Atau misalnya pengelola konten pria menggunakan avatar wanita hal ini seharusnya bisa dibatasi dan dipertanggungjawabkan secara etis," kata dia.