Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan pembekalan kepada para praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua di Jayapura, Senin (22/6).

Dalam acara Bedah Buku Babad Alas di Kampus IPDN Papua, Bima menyampaikan bahwa setiap calon pemimpin daerah maupun birokrat harus memiliki tiga fondasi utama kepemimpinan, yaitu ideologi, strategi, dan taktik.

in1

>>> Hilman Latief Irit Bicara Usai Diperiksa KPK di Kasus Kuota Haji

Menurut Bima, ketiga aspek tersebut penting agar pemimpin mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kepentingan masyarakat, bukan semata-mata popularitas atau kepentingan sesaat.

"Bagi kalian yang hari ini punya bayangan dan cita-cita memiliki posisi strategis entah apa pun itu, harus punya nilai dan pegangan agar tidak mudah dibeli oleh kepentingan transaksional," kata Bima dalam keterangan tertulis Kemendagri.

Ideologi, Strategi, dan Taktik

Bima menjelaskan, ideologi berfungsi sebagai kompas yang menentukan arah kebijakan.

Namun, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan melalui strategi yang tepat agar dapat diwujudkan menjadi program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia mencontohkan pendekatan yang diterapkannya saat memimpin daerah, yaitu konsep mencicil harapan. Perubahan dilakukan secara bertahap namun konsisten melalui program yang menyentuh kebutuhan warga.

Menurut Bima, strategi tersebut terbukti mampu mendorong kemajuan daerah.

Saat menjabat Wali Kota Bogor, Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota itu meningkat dari Rp544 miliar pada 2014 menjadi Rp1,458 triliun pada 2024, atau naik 167,9 persen.

>>> Stephen Chow Gaet Song Kang-ho hingga Dilraba untuk Kung Fu Soccer

Selain itu, berbagai program pembangunan berhasil direalisasikan, antara lain revitalisasi taman kota seluas 15 hektare dan pembangunan jalur pejalan kaki sepanjang 30 kilometer untuk meningkatkan kualitas ruang publik.

Lebih lanjut, Bima menekankan pentingnya taktik dan kemampuan eksekusi.

Menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya menguasai teori dan konsep kebijakan, tetapi juga harus memahami langsung persoalan masyarakat dengan turun ke lapangan.

"Pemimpin itu harus terampil untuk lapangan, makanya pesan saya adalah masalah itu di lapangan bukan di belakang meja," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan memimpin merupakan amanah yang berharga dan tidak berlangsung selamanya.

Karena itu, setiap calon pemimpin perlu mempersiapkan diri sejak dini agar mampu memanfaatkan masa pengabdian secara optimal.

>>> LPSK Verifikasi Dokumen Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya

"Ketika kalian ada di satu posisi, maka manfaatkanlah waktu yang sangat berharga itu untuk membuat kehidupan lebih baik," kata Bima.