Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilainya aneh selama tujuh tahun terakhir atau pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Prabowo, meskipun perekonomian nasional tumbuh rata-rata 5 persen per tahun dan membuat negara semakin kaya, jumlah penduduk miskin justru mengalami peningkatan.

in1

>>> Kejagung Tolak Justice Collaborator Sony Sonjaya, Ini Tiga Dalilnya

Prabowo mengatakan secara logika, pertumbuhan ekonomi selama tujuh tahun seharusnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun data yang diterimanya setelah menjabat presiden menunjukkan kondisi berbeda.

"Logikanya selama tujuh tahun Indonesia tambah kaya 35 persen, tapi kenyataannya, data ini muncul dua bulan setelah jadi presiden.

Kenyataannya setelah tujuh tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah?" ujar Prabowo dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (24/6/2026).

Ia menilai kondisi tersebut merupakan keanehan yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, pertumbuhan ekonomi seharusnya berbanding lurus dengan penurunan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Prabowo, fakta bahwa negara bertambah kaya tetapi jumlah masyarakat miskin ikut meningkat menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam distribusi hasil pertumbuhan ekonomi.

Presiden menegaskan pemerintah harus mewaspadai kondisi tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem ekonomi yang berjalan agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Data BPS: Kemiskinan Turun Tipis

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia turun sekitar 3,06 juta orang dalam kurun waktu 10 tahun atau selama pemerintahan Jokowi, atau hanya sekitar 2,22 persen poin.

>>> Kejaksaan Ungkap Segudang Cara Bereskan Korupsi MBG Tanpa Bergantung pada Sony

Jumlah penduduk miskin pada Maret 2014 tercatat sebanyak 28,28 juta orang, sementara pada Maret 2024 sebesar 25,22 juta orang.