Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut setelah menerima data kondisi ekonomi nasional dua bulan setelah resmi menjabat. Data tersebut merupakan gambaran ekonomi Indonesia selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Data menunjukkan peningkatan jumlah penduduk miskin dan penyusutan kelompok kelas menengah. Padahal, selama tujuh tahun terakhir ekonomi Indonesia disebut tumbuh rata-rata 5 persen per tahun.

in1

>>> Nanik S Deyang Masuk Radar Kejagung di Kasus Korupsi MBG

"Logikanya selama tujuh tahun Indonesia tambah kaya 35%, tapi kenyataannya, data ini muncul dua bulan setelah jadi presiden.

Kenyataannya setelah tujuh tahun tumbuh 5%, masa penduduk miskin tambah?" ujar Prabowo, dikutip Rabu (24/6).

Prabowo mempertanyakan bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi ketika perekonomian nasional disebut mengalami pertumbuhan yang cukup stabil.

"Katanya negara tambah kaya 30 persen kok rakyat miskin tambah, kemudian kelas menengah berkurang," ujarnya.

Sistem Ekonomi Dinilai Keliru

Menurut Prabowo, data tersebut mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan ekonomi selama ini lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu dan tidak terdistribusi secara merata.

>>> England vs Ghana: Susunan Pemain dan Skor Terbaru Piala Dunia 2026

Ia menilai ada kesalahan dalam sistem ekonomi nasional yang harus segera diperbaiki.

"Jadi harus kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru.

Karena apa, kalau orang miskin tambah yang menengah juga berkurang berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang saja," tegas Prabowo.

Presiden menegaskan pemerintah akan mencermati anomali tersebut dan melakukan pembenahan.

>>> Cara Ikuti 5 Tren Teknologi Kripto Populer di 2026

Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi ke depan tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat serta memperkuat kelompok kelas menengah Indonesia.