Ekonom: Pasar Respons Positif Kenaikan BI Rate, Rupiah Menguat
Suku bunga domestik yang kompetitif diperlukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia.
Josua menekankan, efektivitas kenaikan suku bunga tidak boleh dilebih-lebihkan. Sumber tekanan rupiah lebih banyak berasal dari faktor luar negeri, bukan semata ketidakseimbangan domestik.
Penguatan rupiah saat ini masih dipengaruhi intervensi BI, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan masuknya dana asing.
>>> Biaya dan Minimnya Dorongan Pasar Jadi Kendala UMKM Urus Sertifikasi Halal
Per Mei 2026, posisi SRBI mencapai Rp1.021,13 triliun dengan kepemilikan nonresiden Rp238,09 triliun atau 23,32% dari total outstanding.
"Stabilisasi rupiah bertumpu pada daya tarik imbal hasil portofolio jangka pendek. Strategi ini efektif, tetapi rentan jika sentimen global memburuk atau investor asing menarik dana cepat," jelas Josua.
Dari sisi inflasi, kenaikan BI Rate sejalan dengan meningkatnya tekanan harga. Inflasi Mei 2026 tercatat 3,08%, naik dari 2,42% pada bulan sebelumnya.
Inflasi inti sebesar 2,59%, inflasi harga diatur pemerintah 2,07%, dan inflasi harga bergejolak mencapai 6,24%.
Tekanan harga berasal dari komoditas pangan, cuaca, kenaikan harga energi global, serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi, LPG, dan avtur.
Kondisi perbankan nasional masih relatif kuat. Kredit perbankan Mei 2026 tumbuh 11,51% secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan April sebesar 9,98%.
Pertumbuhan kredit investasi mencapai 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%.
Dana pihak ketiga tumbuh 13,47%, dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga 24,74%.
Kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) masih mencapai Rp2.576 triliun atau 22,41% dari total plafon kredit.
"Ini memberi ruang bagi bank menyalurkan kredit, tetapi kualitas penyaluran harus dijaga karena kenaikan suku bunga berdampak tertunda terhadap kemampuan bayar debitur," tambah Josua.
Josua menekankan, keberhasilan menjaga stabilitas rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan ke BI. Kebijakan fiskal yang kredibel juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Keputusan BI mempertahankan pelonggaran kebijakan makroprudensial dinilai menjadi penyeimbang agar kenaikan suku bunga tidak terlalu menekan pertumbuhan kredit.
Hingga pekan pertama Juni 2026, insentif likuiditas makroprudensial tercatat Rp418,1 triliun.
Ke depan, Josua memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di 5,75% hingga akhir 2026 selama stabilitas rupiah terjaga.
>>> DPR Desak PLN Lindungi UMKM Terdampak Pemadaman Listrik, Minta Ada Kompensasi
"Kami perkirakan rupiah akhir tahun di kisaran Rp17.800–18.000 per dolar AS dan imbal hasil SBN 10 tahun di 7,2–7,4%," tuturnya.
Update Terbaru
Puasa Asyura 2026 Berpotensi Beda Tanggal, Ini Versi Pemerintah dan NU
Selasa / 23-06-2026, 14:42 WIB
IPO RANS Bongkar Daftar Pemegang Saham, Ada Kaesang dan Bos Danantara
Selasa / 23-06-2026, 14:38 WIB
Indonesia Perlu Perkuat Ekosistem Investasi untuk Jadi Primadona ASEAN
Selasa / 23-06-2026, 14:38 WIB
Lionel Messi Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia, Kini 18 Gol
Selasa / 23-06-2026, 14:38 WIB
Kronologi Terbongkarnya Kasus Dugaan Suap BEM UBK di Forum Mahasiswa
Selasa / 23-06-2026, 14:28 WIB
5 Lampu Emergency Awet untuk Pemadaman Listrik, Ada yang Tahan 50 Jam
Selasa / 23-06-2026, 14:28 WIB
Jungkook BTS Cetak Sejarah dengan 3 Miliar Streaming Spotify untuk 'Seven'
Selasa / 23-06-2026, 14:23 WIB
4 Rekomendasi Powerbank 10.000 mAh untuk Antisipasi Listrik Padam, Mulai Rp79 Ribu
Selasa / 23-06-2026, 14:23 WIB
5 HP Layar Lengkung dan NFC Termurah, Sensasi Premium dengan Budget Minimum
Selasa / 23-06-2026, 14:22 WIB
Samsung Display Mulai Produksi Panel OLED untuk iPhone Lipat Pertama Apple
Selasa / 23-06-2026, 14:21 WIB
Tiga Negara Resmi Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Selasa / 23-06-2026, 14:21 WIB
Cuma Butuh 10 Menit, Tips Ini Bikin Gula Darah Tetap Stabil
Selasa / 23-06-2026, 14:21 WIB
Lee Joon-gi Dikabarkan Jadi Villain di Film Netflix Dochabi
Selasa / 23-06-2026, 14:21 WIB






