Seorang analis militer China memperingatkan bahwa penempatan sistem rudal Typhon Amerika Serikat di Jepang membawa risiko ancaman langsung bagi keamanan China.

Fu Qianshao, analis militer yang berbasis di Beijing, menyoroti lokasi penempatan di Pangkalan Udara Kanoya, Prefektur Kagoshima, yang sangat dekat dengan daratan China.

in1

>>> Ramalan Zodiak 23 Juni: Cancer Manfaatkan Peluang, Virgo Makin Mesra

Menurut laporan Nikkei pada Minggu (21/6), Washington berencana memasang sistem peluncur rudal jarak menengah terbaru di pangkalan milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang tersebut.

Pemasangan itu direncanakan untuk latihan militer bersama yang dimulai Senin (22/6) dan akan berlanjut pada September mendatang.

"Lokasi penempatan relatif dekat dengan daratan China.

Jika rudal jelajah ditempatkan di sana dengan tingkat kemampuan peluncuran tertentu, itu akan menimbulkan ancaman bagi target darat China yang relevan," kata Fu, dikutip dari South China Morning Post.

Pangkalan Udara Kanoya merupakan pangkalan udara terbesar yang paling dekat dengan Kepulauan Nansei dan Selat Taiwan. Pangkalan ini lebih dekat ke China dibandingkan sebagian besar pangkalan Jepang lainnya.

Typhon adalah sistem peluncur rudal jarak menengah tipe kontainer yang dirancang untuk meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dan rudal serbaguna SM-6 dari darat.

Jika Jepang meluncurkan Tomahawk dari Kanoya, rudal dengan jangkauan sekitar 1.600 kilometer itu bisa mencapai daerah pesisir timur China seperti Shanghai, Zhejiang, dan Fujian.

Jepang dijadwalkan mulai mengimpor rudal Tomahawk pada paruh kedua 2026.

Fu menjelaskan bahwa Typhon juga dapat digunakan untuk menyerang kapal angkatan laut, dengan tujuan membatasi kemampuan Angkatan Laut China dalam memproyeksikan kekuatan ke Pasifik barat.

Dengan ditempatkan di Kagoshima, sistem itu mampu membantu memblokade Selat Miyako, jalur air utama antara Pulau Miyako dan Pulau Okinawa.