Sentimen negatif terhadap kecerdasan buatan (AI) justru meningkat di Amerika Serikat, meskipun penggunaan chatbot seperti ChatGPT melonjak tajam.

Jajak pendapat komprehensif oleh Pew Research mengungkapkan bahwa hanya 16% responden yang percaya AI akan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

in1

>>> Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai US$ 5,64 Miliar hingga April 2026

Sebaliknya, adopsi teknologi ini semakin meluas di kalangan dewasa. Sebanyak 49% orang dewasa mengaku menggunakan chatbot AI, dengan ChatGPT masih paling populer.

Satu perempat dari pengguna tersebut bahkan mengoperasikan chatbot setiap hari. Angka ini melonjak tajam dari data tahun 2024 yang mencatat hanya 33%.

Persepsi Negatif dan Kesenjangan Usia

Peningkatan adopsi tidak serta-merta memperbaiki citra AI.

Sebanyak 40% responden memperkirakan AI akan berdampak negatif bagi masyarakat, dan 31% menilai teknologi ini buruk secara pribadi.

Sikap terhadap AI bervariasi berdasarkan usia. Generasi Z (18-29 tahun) menjadi kelompok paling waspada, dengan 48% meyakini AI akan membawa dampak buruk.

Uniknya, Gen Z juga menjadi kelompok dengan tingkat penggunaan AI tertinggi, yakni 66%.

Sementara itu, kelompok usia 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas memiliki pandangan yang cenderung selaras.

>>> IHSG Melemah ke Level 6.116 Jelang Pengumuman Pasar Global MSCI

Masing-masing 39% dan 37% dari kelompok usia ini memandang AI secara negatif.

Tingkat penggunaan chatbot pada kelompok yang lebih tua lebih rendah, yaitu 61% untuk usia 30-49 tahun dan 42% untuk usia 50-64 tahun.

Kurang dari seperempat responden dari kelompok usia 65 tahun ke atas yang menggunakan chatbot AI.

Paksaan di Lingkungan Kerja dan Masa Depan Industri

Penyebab kesenjangan antara persepsi negatif dan tingginya angka penggunaan belum diketahui pasti. Sebagian orang diduga merasa terpaksa menggunakan AI meski menyadari kelemahan dan isu etika.

Banyak pekerja menghadapi paksaan untuk menerapkan AI di tempat kerja karena atasan sering kali lebih antusias daripada karyawan.

Kondisi ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan industri AI dalam jangka panjang.

>>> Profil Alireza Beiranvand: Pemilik 2 Rekor Guinness yang Bikin Belgia Gigit Jari di Piala Dunia 2026

Saat ini, sektor AI masih didorong oleh sensasi dan suntikan dana besar, sementara keuntungan finansial nyata masih sulit diraih.