Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan Senin (22/6/2026) hingga satu pekan ke depan.

Sikap hati-hati pelaku pasar dipicu oleh beragam sentimen global, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga acuan dunia, serta hasil peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

in1

>>> Pria di China Gugat Cerai Istri Setelah Tiga Hari Menikah Kilat

Direktur Reliance Sekuritas Tbk (RELI) Reza Priyambada menjelaskan bahwa stabilitas pasar saham domestik masih terhambat oleh belum adanya kesepakatan damai yang menyeluruh antara Amerika Serikat dan Iran.

"Pergerakan IHSG pada Senin hingga sepekan ke depan tampaknya cenderung konsolidasi karena pelaku pasar masih mencermati kondisi global pasca belum sepenuhnya tercapainya kesepakatan damai AS-Iran serta masih adanya konflik antara Israel dan Lebanon maupun serangan Israel ke Gaza," kata Reza.

Reza menilai keputusan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market tidak akan mengejutkan karena gejolaknya telah diantisipasi terlebih dahulu oleh para investor.

"Dampak dari pengumuman MSCI yang masih mempertahankan posisi Indonesia di Emerging Market tampaknya sudah ter-price in oleh pasar sehingga diharapkan tidak akan menimbulkan shock di market," ujar Reza.

Aktivitas perdagangan di pasar keuangan domestik diperkirakan berjalan terbatas karena nilai tukar rupiah belum menguat secara signifikan, meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan dua kali sepanjang Juni 2026.

Langkah pengetatan moneter tersebut dinilai Reza dapat memicu kekhawatiran atas meningkatnya biaya pinjaman bagi emiten, sehingga ia menyarankan investor untuk melirik saham sektor pertambangan serta minyak dan gas yang berorientasi ekspor.

"Jika nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan, maka investor dapat mencermati saham-saham berorientasi ekspor seperti sektor pertambangan, minyak dan gas, serta sektor terkait lainnya.