Ketegangan Israel-Lebanon Tekan Harga Bitcoin hingga Sempat Turun 5 Persen
Ketegangan geopolitik antara Israel dan Lebanon kembali mengguncang pasar aset kripto. Harga bitcoin sempat merosot hampir 5 persen secara intraday pada perdagangan Jumat (19/6).
Bitcoin tercatat jatuh ke level US$ 62.601 atau sekitar Rp 1,11 miliar (kurs Rp 17.826).
>>> Mendiktisaintek Ajak Kampus Hadirkan Solusi Pembangunan Lewat Iptek
Namun, nilainya kemudian pulih dan ditutup menguat 1,65 persen dalam 24 jam ke US$ 63.628.
Data CoinGlass menunjukkan total likuidasi di pasar kripto mencapai US$ 579,43 juta pada hari yang sama.
Posisi long mendominasi dengan US$ 496,62 juta, sementara short US$ 82,81 juta.
Lebih dari 139.000 trader terdampak, menurut catatan Tokocrypto. Bitcoin menjadi aset dengan likuidasi terbesar, yaitu US$ 191,49 juta.
Ethereum menyusul dengan likuidasi US$ 135,46 juta. Aset lain seperti HYPE, XRP, SOL, dan ADA juga mengalami tekanan.
Analis: Leverage Percepat Penurunan
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai tekanan jual tidak hanya dipicu faktor makro, tetapi juga tumpukan posisi leverage di pasar derivatif.
"Ketika konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Posisi leverage yang menumpuk dapat mempercepat penurunan harga karena likuidasi berantai," ujarnya.
>>> Ekuador dan Curacao Berbagi Poin Usai Imbang Tanpa Gol
Menurut Fyqieh, level US$ 60.000 menjadi psikologis krusial bagi bitcoin. Fase konsolidasi masih mungkin terjadi selama harga bertahan di atas level tersebut.
Namun, risiko koreksi lebih dalam mengintai jika tekanan jual berlanjut dan bitcoin gagal bertahan di atas US$ 60.000.
Volatilitas tinggi dipicu efek berantai ketegangan Timur Tengah.
Secara teknikal, bitcoin berada di zona krusial US$ 64.000–US$ 66.000. Jika berhasil ditembus, peluang pemulihan menuju resistensi US$ 74.000–US$ 76.000 terbuka.
Sebaliknya, jika terjadi penolakan, pergerakan bitcoin bisa terbatas di rentang US$ 60.000–US$ 65.000. Tanda-tanda pembentukan landasan harga mulai terlihat di sekitar US$ 60.000.
Peningkatan likuiditas beli di order book spot mengindikasikan sebagian pelaku pasar bersiap mengantisipasi tekanan jual. Fyqieh mengingatkan investor untuk disiplin mengelola risiko.
"Volatilitas kemungkinan masih tinggi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga terlihat murah.
>>> Harga Oli dan Ban Naik, Bengkel di Jatim Kelimpungan
Manajemen risiko dan pemantauan level support utama sangat penting," pungkasnya.
Update Terbaru
Uruguay vs Tanjung Verde: Kejutan Lain atau Kejutan yang Tertaklukkan?
Minggu / 21-06-2026, 10:36 WIB
Real Madrid Bantah Rumor Ketertarikan pada Michael Olise
Minggu / 21-06-2026, 10:36 WIB
Real Madrid Bantah Rumor Michael Olise, Tegaskan Tak Ada Kontak
Minggu / 21-06-2026, 10:32 WIB
Toyota Veloz Hybrid Ternyata Bisa Menggunakan BBM RON 90
Minggu / 21-06-2026, 10:32 WIB
IHSG Melonjak 2,82 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.788 Triliun
Minggu / 21-06-2026, 10:32 WIB
Marco Bezzecchi Kena Skorsing, Susunan Grid MotoGP Ceko 2026 Berubah
Minggu / 21-06-2026, 10:31 WIB
Deniz Undav Samai Rekor Roger Milla di Piala Dunia 2026
Minggu / 21-06-2026, 10:31 WIB
Graham Potter Bongkar Kelemahan Swedia Usai Dihancurkan Belanda di Piala Dunia 2026
Minggu / 21-06-2026, 10:28 WIB
IHSG Melonjak 2,83% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.788 Triliun
Minggu / 21-06-2026, 10:28 WIB
Jin Ki-joo Tanggapi Kritik Akting di Teach You a Lesson
Minggu / 21-06-2026, 10:26 WIB
Graham Potter Evaluasi Total Timnas Swedia Usai Kalah Telak dari Belanda
Minggu / 21-06-2026, 10:26 WIB
Microsoft Hentikan Dukungan Office 2021 Mulai Oktober 2026
Minggu / 21-06-2026, 10:26 WIB
BOK Peringatkan Bonus Besar Pekerja Teknologi Picu Inflasi
Minggu / 21-06-2026, 10:24 WIB
Kemenperin Kaji Standarisasi Komponen Motor Listrik demi Keselamatan
Minggu / 21-06-2026, 10:24 WIB






