Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan untuk mendukung mitigasi perubahan iklim, seperti meningkatkan efisiensi energi dan memantau lingkungan.

Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa dampak AI terhadap emisi karbon tidak sesederhana yang dibayangkan.

in1

>>> Hikayat Kadiroen: Mantri Polisi yang Pilih Rakyat daripada Pangkat

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment menunjukkan bahwa di balik potensi manfaatnya, AI membutuhkan energi besar untuk menjalankan pusat data.

Jika sumber listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil, konsumsi energi ini justru berpotensi meningkatkan emisi karbon.

Fenomena 'Lembah Karbon'

Peneliti dari Kuwait University, Yassine Charabi, mengembangkan model untuk menghitung kebutuhan listrik dan emisi dari perkembangan AI. Setelah 10.000 simulasi, ia menemukan fenomena yang disebut 'lembah karbon'.

Istilah ini menggambarkan kondisi ketika emisi dari infrastruktur AI lebih besar dibanding pengurangan emisi yang dicapai melalui penerapan AI.

Pada tahap awal, AI justru berpotensi menambah emisi karbon sebelum manfaat lingkungannya terasa.

Temuan ini penting bagi Indonesia yang tengah mempercepat transformasi digital.

>>> Empat Shio Alami Kemajuan Positif pada 21 Juni 2026

Pemanfaatan AI didorong di berbagai sektor, namun peningkatan penggunaan AI juga akan mendorong pembangunan pusat data yang membutuhkan listrik besar.

Bauran energi nasional masih didominasi batu bara. Jika kebutuhan listrik AI meningkat tanpa percepatan energi terbarukan, emisi karbon dari sektor digital berpotensi ikut naik.

Menurut Yassine, salah satu cara memperkecil lembah karbon adalah mempercepat pemanfaatan AI pada sektor yang mendukung transisi ekonomi rendah karbon.

Jika tertunda, akumulasi emisi tambahan bisa mencapai 0,45 gigaton CO2 per tahun.

"Dalam skenario percepatan penyebaran pusat data AI, pengurangan emisi tahunan tidak mampu menghapus tambahan emisi kumulatif yang telah terjadi sebelumnya," ujar Yassine.

>>> Jalan Rasuna Said Rampung Ditata, Pramono Yakin Jadi Ikon Baru Jakarta

Pengembangan AI perlu diiringi transisi energi bersih agar manfaat iklimnya benar-benar terwujud.