Pengembangan reaktor fusi nuklir raksasa yang dikenal sebagai matahari buatan berhasil mencatat kemajuan besar. Teknologi ini digadang-gadang menjadi masa depan pemenuhan kebutuhan listrik dunia.

Keunggulan utama dari sistem ini adalah kemampuannya menghasilkan pasokan listrik berlimpah. Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan jauh lebih rendah daripada pembangkit listrik konvensional.

in1

>>> Persebaya Surabaya Resmi Rekrut Ramadhan Sananta

Proyek energi bersih berbasis fusi ini dijalankan melalui reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak atau EAST.

Melalui fasilitas tersebut, para ilmuwan dilaporkan telah berhasil melampaui batas fisika yang selama puluhan tahun sulit ditembus.

Penghalang utama yang berhasil dilewati oleh tim peneliti tersebut dinamakan batas Greenwald.

Kondisi tidak stabil hingga risiko kerusakan sistem biasanya membayangi reaktor apabila tingkat kepadatan plasma di dalamnya terlalu tinggi.

Namun, EAST membuktikan bahwa stabilitas tersebut kini dapat dipertahankan.

Keberhasilan ini memperbesar peluang umat manusia untuk menciptakan sumber energi baru yang mengadopsi cara kerja inti matahari asli.

Matahari sendiri mampu memancarkan energi panas dan cahaya selama miliaran tahun tanpa membutuhkan pasokan bahan bakar tambahan.

Proses alami tersebut terjadi karena adanya reaksi fusi nuklir konvensional di pusatnya.

Pada pusat matahari, benturan antar-atom hidrogen terus berlangsung dalam suhu ekstrem mencapai 15 juta derajat Celsius dan tekanan tinggi.

Reaksi penyatuan dua inti atom hidrogen menjadi helium ini melepaskan energi yang sangat masif.

Fusi nuklir dinilai memiliki keunggulan komparatif yang tinggi dibandingkan dengan sistem fisi nuklir tradisional. Salah satu kelebihan utamanya adalah risiko limbah radioaktif yang dihasilkan jauh lebih kecil.

Metode Pengurungan Magnetik Super Panas

Sistem operasional yang diadopsi di dalam EAST menggunakan reaktor berbentuk donat raksasa yang disebut tokamak.