Gas hidrogen di dalam ruang tersebut dipanaskan hingga melewati suhu 100 juta derajat Celsius.

Suhu di bumi harus dibuat jauh lebih tinggi daripada inti matahari karena perbedaan gaya gravitasi.

in1

Ketiadaan gravitasi sebesar matahari di bumi disiasati dengan mempercepat pergerakan partikel lewat suhu yang lebih ekstrem.

Gas hidrogen yang dipanaskan secara ekstrem kemudian akan berubah wujud menjadi plasma super panas.

Masalahnya, belum ada material padat di bumi yang mampu menahan suhu setinggi itu tanpa meleleh.

Ilmuwan mengatasinya dengan memanfaatkan medan magnet berkekuatan tinggi berbentuk cincin untuk mengurung plasma. Skema tersebut membuat komponen plasma melayang di ruang hampa tanpa menyentuh dinding reaktor.

>>> Cara Mengenali Orang Cerdas Melalui Kebiasaan dan Cara Berbicara

Tantangan terbesar berikutnya adalah menjaga agar plasma yang sangat padat tersebut tetap berada dalam kondisi stabil.

Berdasarkan teori, energi fusi yang diproduksi akan meningkat sebanding dengan kuadrat kepadatan plasma.

Titik kritis runtuhnya kestabilan plasma inilah yang disebut batas Greenwald. Reaktor milik China sukses mencatatkan rekor baru dengan mempertahankan kestabilan plasma pada tingkat kepadatan yang tinggi.

Strategi Teknis dan Penemuan Teori Baru

Institute of Plasma Physics atau ASIPP yang berada di bawah Chinese Academy of Sciences menerapkan empat teknik khusus.

Strategi pertama adalah pemanasan gelombang mikro gelombang gyrotron untuk menjaga kestabilan suhu plasma.

Langkah kedua dilakukan melalui pengisian bahan bakar pelet hidrogen guna mengendalikan volume gas secara presisi.

Ketiga, dinding bagian dalam reaktor diganti dengan material logam penuh untuk meminimalkan zat pengotor.

Strategi terakhir melibatkan pengondisian dinding litium demi menekan pelepasan partikel asing dari material tungsten. Seluruh rangkaian teknis ini bertujuan utama untuk menjaga bagian tepi plasma tetap stabil.