Riset ini juga melahirkan teori baru bernama Plasma-Wall Interaction Self-Organisation atau PWSO. Teori PWSO mengungkapkan bahwa tingkat radiasi pada tepi plasma memegang peranan penting dalam memicu batas Greenwald.

Melalui manipulasi radiasi tersebut, peneliti berhasil mengarahkan operasi plasma menuju wilayah baru yang disebut density-free region. Kondisi operasional baru ini memungkinkannya tetap stabil walau berada pada kepadatan tinggi.

Menuju Fase Fusion Ignition

in1

Keberhasilan eksperimen EAST memperdekat langkah menuju fase fusion ignition atau penyalaan mandiri.

Fase ini merupakan situasi di mana reaksi fusi dapat terus berjalan mandiri tanpa memerlukan pasokan energi luar.

Hingga saat ini, reaktor buatan manusia masih memerlukan pasokan energi eksternal yang besar agar tetap beroperasi. Jika kondisi serupa matahari asli ini tercapai, efisiensi energi akan melonjak drastis.

Pada tingkat kepadatan 1,3 kali batas Greenwald, laju reaksi fusi dilaporkan mampu meningkat di atas 30 persen.

Sementara itu, tingkat kepadatan sebesar 1,65 kali dapat memicu peningkatan laju reaksi hingga berlipat ganda.

Walaupun memberikan hasil positif, para ilmuwan menyatakan bahwa pembangkit listrik fusi komersial belum siap digunakan. Masih ada tantangan daya tahan material jangka panjang dan penyempurnaan sistem rekayasa energi.

Laporan riset mutakhir dari EAST ini telah resmi dipublikasikan melalui jurnal ilmiah Science Advances.

>>> 24 Miliar Data Sensitif Bocor di Internet, Termasuk Password Plaintext

Proyek global yang berjalan sejak 2006 ini juga membuka kesempatan kolaborasi bagi peneliti internasional, termasuk dari Indonesia.