MSCI menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi keterbatasan pada pasar valuta asing, termasuk tidak adanya pasar offshore yang efisien serta pembatasan pada pasar onshore.

Meski demikian, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee mengatakan sebagian besar indikator aksesibilitas pasar saham Indonesia yang dinilai MSCI tetap positif dan tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

in1

>>> Pasar Mobil Bekas Tawarkan Daihatsu Rocky 2022 Mulai Rp132 Juta

Indonesia pun berpeluang besar mempertahankan statusnya sebagai emerging market saat keputusan final dari MSCI pada 23 Juni 2026.

Volatilitas yang sempat terjadi pada awal dan pertengahan perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh aksi ambil untung setelah reli kuat yang dialami IHSG beberapa hari sebelumnya.

"Prospek IHSG saat ini masih relatif konstruktif meski pasar sedang mengalami fase konsolidasi," ujar Hans Kwee, Jumat (19/6/2026).

Dari sisi eksternal, pasar global juga berada dalam fase konsolidasi setelah euforia meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Investor kini lebih fokus pada dampak lanjutan terkait pasokan energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global.

Sikap The Fed yang masih mempertahankan peluang suku bunga acuan juga menjadi faktor yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham emerging market.

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% turut menahan laju penguatan IHSG, apalagi BI berpotensi melanjutkan kebijakan tersebut demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

>>> Cara Melaporkan Gangguan Listrik Melalui Contact Center PLN 123

Tren suku bunga acuan tinggi membuat investor cenderung berhati-hati terhadap pasar saham dan berpotensi migrasi ke instrumen pendapatan tetap.