>>> Booming AI Picu Lonjakan Harga Chip Memori DRAM dan NAND

Pertama, menurunkan berat badan sekitar 5 sampai 10 persen efektif mengurangi kadar lemak dan peradangan pada organ hati.

in1

Kedua, menghentikan konsumsi gula cair dengan membatasi jajan minuman manis kemasan, kopi susu, boba, hingga soda.

"WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen," ujarnya.

Ketiga, menerapkan pola makan gizi seimbang dengan memprioritaskan porsi makanan sesuai panduan isi piringku, yakni setengah porsi sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat, sekaligus menghindari makanan ultra-proses dan gorengan.

Keempat, rutin beraktivitas fisik selama 150 hingga 300 menit per minggu atau sekitar 30 menit setiap hari, ditambah latihan beban dua kali seminggu untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin.

Kelima, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala dengan memantau ukuran lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), kadar gula darah, kolesterol, serta melakukan pemeriksaan USG perut jika diperlukan.

Pencegahan Sejak Dini

Upaya menangkal bibit penyakit perlemakan hati sebaiknya sudah mulai diterapkan sejak masa anak-anak dan remaja.

Hal ini terutama di tengah maraknya kebiasaan begadang, tingginya screen time, dan konsumsi jajanan sembarangan.

"Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, perbanyak aktivitas luar ruang, kurangi waktu layar, tidur cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses," ujar dr Widya.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak meremehkan diagnosis perlemakan hati ringan. Kondisi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memburuk menjadi sirosis hingga kanker hati.

Peran pemerintah juga krusial dalam membangun ekosistem pendukung yang memudahkan akses terhadap gaya hidup sehat.

>>> Kejaksaan Agung Tetapkan Ketua Yayasan IFSR Tersangka Korupsi Makan Gratis

"Pencegahan fatty liver memerlukan kolaborasi semua pihak karena masyarakat akan sulit menerapkan gaya hidup sehat apabila makanan tinggi gula dan lemak lebih mudah diakses, lebih murah, dan lebih banyak dipromosikan dibandingkan pilihan yang sehat," pungkasnya.