Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan sedikitnya 265 anak Palestina tewas di Jalur Gaza sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

Organisasi itu menyebut gencatan senjata sebagai "ilusi mematikan" dan memperingatkan bahwa kekerasan masih terus berlanjut meskipun penghentian permusuhan telah diumumkan.

in1

>>> Rasio Klaim JKN Sultra Capai 136,11 Persen, Pemda Didorong Bayar Iuran

Juru Bicara UNICEF James Elder mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa rata-rata satu anak terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan.

Ia menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai "ilusi yang kejam dan mematikan" dan mempertanyakan apakah kondisi saat ini masih dapat disebut gencatan senjata ketika anak-anak terus kehilangan nyawa.

"Saat dunia terus berbicara tentang gencatan senjata, keluarga-keluarga di Gaza masih terus menguburkan putra dan putri mereka," ujarnya.

Elder mengatakan anak-anak tersebut tewas di rumah, sekolah, dan ruang publik, termasuk saat bermain sepak bola maupun memancing.

"Pekan ini, seorang anak laki-laki berusia dua tahun ditembak hingga tewas oleh pasukan Israel. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun ditembak mati di dalam tendanya.

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan ayahnya tewas akibat serangan Israel, dan peristiwa serupa terus terjadi," katanya.

Gencatan Senjata Tak Bermakna

Menurut UNICEF, lebih dari 400 anak juga mengalami luka-luka sejak Oktober, dengan banyak di antaranya menderita cedera berat.

"Penderitaan tidak berhenti pada mereka yang tewas. Lebih dari 400 anak terluka, banyak di antaranya mengalami luka yang sangat parah," ujar Elder.

>>> Raisa dan Sung Si Kyung Rilis Single Duet 'Heaven Knows'

Ia mencontohkan kasus seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang tertembak di bagian dada saat berada di dalam tenda, serta seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang tertembak di wajah oleh peluru dari pesawat nirawak quadcopter saat berada di rumahnya.