KrediOne mencatat penyaluran pendanaan sebesar Rp 17,6 triliun kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia sejak berdiri pada 2019 hingga Mei 2026.

Perusahaan fintech pinjaman daring ini menyasar masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani lembaga keuangan konvensional.

in1

>>> Kisah Askarina Pulih dari Kanker Payudara Berkat Terapi dan PET-CT

Kuseryansyah dalam siaran pers menyatakan bahwa perkembangan industri fintech memerlukan kolaborasi antara regulator, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat demi ekosistem digital yang sehat.

"Sejak berdiri pada tahun 2019 hingga Mei 2026, KrediOne telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp 17,6 triliun kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Capaian ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat dan terjangkau," ujar Kuseryansyah.

Pertumbuhan industri ini dinilai harus diiringi dengan penguatan tata kelola, perlindungan konsumen, serta peningkatan literasi keuangan demi optimalisasi manfaat teknologi.

"Transformasi digital tidak hanya berbicara tentang adopsi teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi mampu menciptakan akses yang lebih luas terhadap peluang ekonomi.

Karena itu, pembangunan ekosistem digital yang sehat membutuhkan kolaborasi yang erat antara regulator, industri, institusi pendidikan, dan masyarakat," kata Kuseryansyah.

Potensi Jambi sebagai Pusat Ekonomi Digital

Kuseryansyah menilai Provinsi Jambi memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital baru di Sumatera berkat perkembangan UMKM dan peran aktif generasi muda.

>>> Jio Call Agent dan MyJio AI: Inovasi Layanan Digital di AGM ke-49

"Provinsi Jambi memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Dengan didukung literasi keuangan yang kuat, pemanfaatan teknologi yang tepat, dan semangat kewirausahaan generasi muda, transformasi digital dapat mendorong lahirnya peluang ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan," ujar Kuseryansyah.