Kesenjangan literasi keuangan sebesar 16,74 persen melanda investor muda akibat perilaku investasi yang sekadar ikut-ikutan.

Fenomena ini dipicu oleh kemudahan akses digital, pengaruh pergaulan, serta konsumsi konten edukasi singkat yang kurang mendalam.

in1

>>> Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Pembatalan Dialog AS dan Iran

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The menyebut fenomena tersebut sebagai Joining Without the Understanding.

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18-25 tahun mencapai 89,96 persen.

Namun, tingkat literasi keuangannya baru berada di level 73,22 persen.

Artinya, terdapat kesenjangan sebesar 16,74 poin persentase yang menunjukkan masih banyak anak muda menggunakan produk keuangan tanpa memahami risiko.

Empat Faktor Penyebab Kesenjangan

Menurut Moleonoto, ada empat faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut.

Pertama, proses pembukaan rekening investasi yang semakin mudah dan serba digital membuat calon investor kehilangan momentum untuk mempelajari instrumen secara mendalam.

Kedua, keputusan investasi didorong oleh rekomendasi lingkungan pergaulan tanpa transfer pengetahuan fundamental.

Faktor ketiga adalah orientasi industri yang lebih menitikberatkan pada pertumbuhan jumlah pembukaan rekening baru dibandingkan peningkatan kompetensi investor jangka panjang.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.804 per Dolar AS di Pasar Spot

Keempat, fenomena TikTok-fication yang menciptakan ilusi pemahaman melalui konten edukasi singkat tanpa pembelajaran mendalam.

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan partisipasi investasi jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan literasi keuangan masyarakat.

Edukasi Melalui Esports

Menanggapi fenomena itu, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengedukasi generasi muda melalui ajang Kapolda Jateng Cup 2026 di De Tjolomadoe, Surakarta.

Langkah ini diambil untuk meningkatkan kompetensi finansial dan manajemen risiko komunitas esports.

"Komunitas esports memiliki banyak karakteristik yang dibutuhkan dalam dunia investasi, seperti disiplin, fokus, dan kemampuan membaca strategi," ujar Moleonoto.

Dalam kegiatan tersebut, perusahaan menghadirkan program edukasi "Cerdas Finansial Bersama IPOT" yang menggabungkan literasi keuangan, teknologi AI, serta pengenalan investasi.

IPOT juga menyediakan konsultasi langsung dengan penasihat keuangan berlisensi.

>>> BRI KKB Tawarkan Promo Mobil Listrik dengan Bunga Mulai 3 Persen Flat

Perusahaan yang mengelola dana nasabah sekitar Rp312 triliun tersebut menargetkan lahirnya generasi investor yang cerdas, disiplin, dan bijak memanfaatkan teknologi.