Nilai tukar rupiah spot ditutup melemah Rp 10 atau 0,06 persen ke level Rp 17.804 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6).

Pelemahan ini dipicu oleh berlanjutnya penguatan indeks dolar AS.

in1

>>> BI Catat Fasilitas Pinjaman Belum Digunakan Rp2.576 Triliun per Mei 2026

Meski melemah harian, dalam sepekan terakhir rupiah tercatat menguat 0,31 persen dibanding posisi Jumat pekan lalu di Rp 17.860 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia stagnan di Rp 17.826 per dolar AS, setelah menguat 0,53 persen dalam sepekan.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Indeks dolar AS yang mencapai level 100,758 menjadi pemicu utama koreksi rupiah di akhir pekan.

Namun, sentimen pasar sebenarnya telah membaik berkat meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan hasil peninjauan MSCI.

Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong, mengatakan rupiah didukung oleh laporan review MSCI yang direspons positif investor.

Prospek kenaikan suku bunga BI ke depan juga ikut mendukung stabilitas rupiah.

>>> Peruri Dorong Talenta Digital dengan Kemampuan Analitis dan Berpikir Kritis

Keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market turut menjaga stabilitas nilai tukar dari sisi domestik.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan BI yang kini di level 5,75 persen juga menjadi faktor positif.

Namun, perkembangan eksternal masih berubah-ubah. Indeks dolar AS terus naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun pasca hasil FOMC yang hawkish.

Proyeksi Pekan Depan

Pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi AS seperti inflasi PCE dan revisi final PDB.

Investor juga menantikan klasifikasi IHSG oleh MSCI yang diharapkan tetap berstatus emerging market.

>>> DJP Kumpulkan Tambahan Pajak Kawasan Hutan Rp26 Triliun

Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan berfluktuasi dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS sepanjang pekan depan.