Kemajuan teknologi kecerdasan artifisial (AI) membawa ancaman baru berupa deepfake yang mampu meniru wajah, suara, dan video seseorang dengan sangat realistis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa modus penipuan digital semakin kompleks dan berbahaya.

in1

>>> DPR Desak Kemenpar Tambah Anggaran Desa Wisata

Masyarakat sering kali kesulitan membedakan konten asli dengan hasil rekayasa teknologi.

Era Agentic AI dan Risiko Baru

Nezar menyebut adopsi AI berlangsung sangat cepat, bahkan telah melampaui fase generative AI menuju era agentic AI.

Agentic AI adalah sistem yang memiliki kemampuan lebih mandiri dalam penalaran dan pengambilan keputusan.

Meski bermanfaat bagi bisnis, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan, teknologi ini juga menghadirkan risiko keamanan siber yang serius.

>>> IHSG Melemah ke Level 6.172 Jelang Pengumuman Indeks Global

Pelaku kejahatan digital memanfaatkan AI untuk menjalankan berbagai modus scam atau penipuan online.

Deepfake yang semakin canggih memungkinkan pelaku memalsukan identitas seseorang untuk mengelabui korban.

Hasil manipulasi AI kini berkembang menjadi synthetic reality atau realitas sintetik, yaitu konten digital yang tampak sangat nyata.

Kerentanan ini diperparah oleh rendahnya pemahaman publik terhadap teknologi AI.

>>> Meta Resmi Luncurkan WhatsApp Plus Berbayar di Indonesia, Ini Fitur dan Harganya

Nezar menekankan pentingnya etika dalam pengembangan dan penggunaan AI agar tidak disalahgunakan.